Tuesday, January 23, 2018

Asap Rokok

Sudah hampir dua bulan ini aku ikut bantu-bantu di panwaslu kecamatan. Aku tak mau bilang ini kerja, karena aku tak merasa kerja ini cocok untukku, kecuali gajinya.

Disini kerjanya gampang, tapi banyak asap rokok.

Dari sini aku mulai punya kriteria baru soal kerja yang mau aku geluti. Tidak boleh ada pegawai yang merokok seenak jidatnya. Bisa kubilang sekarang, perokok yang merokok di manapun seenak jidat adalah mereka yang gak punya etika, yang gak tau diri, manusia serendah-rendahnya.

Kenapa?

Enak sekali dia ngisep racun lalu orang lain suruh ikut-ikutan juga. faq kan?

Aku yang takut setengah mati kena sakit tapi gak berani bilang blak-blakan soal jangan merokok di depan aku! Hanya bisa tahan napas, hanya bisa pergi bentar benar agar tak jadi perokok pasif. 

Sial kan, kalau sakit sendiri yang ngobatin. Duit dari mana? Mikir dong. 

Aku kesal bukan main. You! Kalian semua gak berhak nyebar racun kampret ini ke orang-orang yang pengen hidup sehat kayak aku. Gara gara you semua aku jadi ikut-ikutan kena racun sialan ini. Sekarang aja sudah kerasa pusingnya, bagaimana nanti? Aku beli obat herbal mahal untuk kuminum tiap pagi agar terus sehat, kalian enak-enakan nyebar racun tiap hari.

Perduli setan dengan jadi pengangguran, aku mau resign akhir buan ini.

Harga Diri Yang Mahal

Selamat datang di kehidupan yang penuh dengan aturan orang lain. 

Selamat datang di kehidupan yang jika tak sesuai bisa kena bentak kapan saja, dimana saja, tidak terduga. Hahaha.

Sementara aku gak mau hidupku di atur-atur orang lain, makanku, minumku, tidurku, bangunku, omonganku. Aku tidak merasa kurang, aku tidak merasa perlu dibenerin. Harga diriku terluka.

Oleh karenanya, aku malas lagi bicara denganmu. Aku malas hidup denganmu. 

Tapi semua sudah terlanjur.

Tanganku terikat, kakiku juga. Mulutku kelu, tak betah.

Apalagi larangan ini itu, terakhir soal teman? Tak usah sebegitunya sama teman. Kamu tak hidup dengan teman, katamu. Faq.

Aku tailah, yang boleh teman berteman dan ditemani kan mantan terubur-ubur mu. 

Aku berteman karena kamu tak pernah sudi membela. Ingat saat aku dikeroyok mantan ubur-ubur? Kamu diam, gak mau ikut-ikutan. Hahahahaha 

Makanya aku mau menemani orang lain, mereka juga kuharap begitu. Suatu saat aku dikeroyok lagi, atau kau apa-apakan, aku punya bela, bela diri. Aku punya seseorang untuk membela. Karena kamu tidak bisa, tidak.

Saturday, January 20, 2018

Our Wedding Invitation Design

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

In the name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful.

Ridha Pangastuti
(2nd Daughter of Mr. Eko Widiyanto & Mrs. Titin Sudarwati)

and

Andi Setiawan
(2nd Son of Mr. S. Sumadi & Mrs. Suminem)

With great pleasure, we invite you to join us at our walima, Insha Allah:

on Sunday, 4th February 2018 
09.00 am - 05.00 pm
at Purworejo, Negeri Katon, Pesawaran
(Please, click link below to find location on Google Map)
https://goo.gl/maps/y8BpUnEahp62

With Love,
Ridha & Andi


























































Tidak akan di post di media sosial tapi tetep pengen pamer, jadi aku post disini.

Why Now Babe?

Kenapa buru-buru menikah? Menikah padahal belum punya bekal yang cukup, belum pernah ikut kelas pra nikah, belum punya kerja yang pantes jadi belum bisa ngasih apa-apa ke orang tua, belum punya tabungan, belum punya bayangan mau gimana. Kenapa sekarang? Kenapa tidak nanti? Than, udah tau tidak siap-siap amat, why are you so happy? Why are you so proud? Kenapa kamu sangat PD?

Benar juga pertanyaan diatas, aku gak punya jawabannya.

Lalu?

Sekarang menikah, supaya aku tidak pacaran melulu. Hanya pengen hijrah saja. 

Sebelum benar-benar di datangi keluarganya, aku begitu kalut tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu, ya sampai sekarang juga sih. Tapi setelah lamaran semua jadi lebih enteng. Malam sebelum lamaran aku datang ke Allah, minta petunjuk ini mau apa sebenernya. Aku seneng ya Allah, tapi takut juga. Kenapa seneng? Karena gak pacaran lagi. Ya honestly, aku malu ketika pacaran, asik sekaligus khawatir. Lalu aku akan mengakhiri semua masa-masa kegelepan.

Aku lega.

Takutnya? Aku takut masih belum bisa jawab pertanyaan itu. Lalu aku minta ke Allah mudahkan ya Allah… semoga ini mudah dan berkah.

Lalu kemudian semuanya benar dibuat mudah, tidak serta merta semua gimana. Tapi memang rasanya jadi santai, ada sedih gak bisa ini itu tapi menerima dengan baik, ngambek tapi tidak marah, tegang tapi tau punya pegangan. Lalu sesekali sedih ketikai ingat semua akan berubah. Semua persiapan dilakukan dengan sadar dan gak kalap. 

Kenapa menikah sekarang?

Ya karena sekarang, tidak perduli nanti gimana. Semua akan baik-baik saja, makin baik malah.

Thursday, January 18, 2018

Sebentar Lagi

Hampir dua minggu kedepan, hidupku akan berubah. Aku akan menjadi seseorang dengan status dan cara hidup yang berubah. am I excited? Yes, dan excited ini mulai berubah lagi jadi takut.

Hey! Aku bakal hidup sama orang lain? Aku bangun, makan, bersih-bersih, jalan-jalan, dan lainnya dengan adat budaya orang lain, dengan tata krama keluarga lain (yah aku dikenal gak ngerti tata krama by the way), dan aku gak suka dengan label itu, bener-bener gak suka.

Apakah aku bisa menghadapinya? How if…

Apakah aku harus berubah? aku kah yang harus berubah? Really? 

Aku pengen banget bisa konseling ke orang.

Meski aku pernah dapat nasihat tentang “jangan menulis diary terus, semua-mua ditulis (selanjutnya diketahui bahwa indikasi orang yang punya kelainan jantung adalah orang yang semua di simpan dalam dendam, dalam tulisan), just let it go… darling.

Aku tetep pengen sharing tentang apa yang terjadi sama aku, ketakutan ini, label ini, yeah… iam afraid to change. Aku takut berubah… aku lemah, tidak jenius, tidak punya uang, aku tidak independen. How if…

Aku harus segera punya anak than, why? I think anak bakal jadi teman seumur hidup, ya minimal sampai aku mati. Lalu lanjut ke akhirat.

Aku takut tidak di bela (lagi). Makanya aku harus punya seseorang yang akan membela ku, darah dagingku, anakku. Atau sebetulnya aku bisa membela diri sendiri ya?

Aku takut sekali… aku takut sedih, aku takut salah.

Aku… takut.

Tuesday, January 16, 2018

Novel Syndrome

Aku bersyukur atas apa yang terjadi hari ini, semua sungguh di luar dugaanku. Seharian bisa tidur lelap dan membaca novel dewasa yang dikirimkan hanna padaku semalam. Sudah hampir dua bulan ini aku disibukkan dengan pekerjaanku yang benar-benar menguras tenaga, aku harus bolak balik ke kantor dan menyelesaikan setumpuk berkas agar bisa merasakan akhir pekan secara normal, normal? ya normal seperti orang-orang (Selalu saja menjadikan orang lain sebagai ukuran). Tapi itu tidak pernah terjadi sejak dua bulan lalu, weekend yang sebelumnya bisa kunikmati dengan hangout bersama teman-teman geng, kini justeru kulewati dengan membawa sisa kerja di kantor dan begadang hingga senin pagi. 

Aku yang sebetulnya tidak kuat-kuat amat daya tahan tubuhnya harus bertahan dengan setiap pagi minum suplemen agar tetap fokus menyelesaikan tugasku, sempat kucoba sehari tidak meminumnya karena lupa dan hampir pingsan saat jam sudah menunjukkan pukul 15.00. Aku sadar bahwa apa yang aku lakukan tidak semestinya dilakukan oleh perempuan muda 25 tahun yang lincah kesana kemari. Aku semakin terlihat berantakan dan galak setiap hari.

Aku terkejut mendapati jam di pergelangan tanganku sudah menunjukkan pukul 9 malam dan aku masih di jalan dengan motor bebekku yang sudah lama tidak kucuci, aku baru saja mengantar barang ke salah satu pelanggan yang cukup jauh dari rumah. Dari sore tadi hujan memang belum berhenti, badanku menggigil di bawah mantel hijau milik ibu yang kukenakan untuk melindungi diri dari hujan.

Aku selalu suka hujan, mengendarai motor di kala hujan seperti ini membuatku merasa sedih dan romatis. Lampu jalan yang basah dan menimbulkan efek pinterest ini selalu membuatku terpikat. Aku berandai andai jika nanti aku menikah, pasti sangat seru bisa pergi berdua di malam yang dingin dan hujan seperti ini.

Tak lama lamunanku buyar dengan suara klakson mobil di belakang, rupanya lampu merah sudah berubah hijau dan aku harus buru-buru maju agar tidak ditabrak kendaraan yang sudah mulai tak sabar menungguiku. Dalam perjalanan sampai rumah, aku meneruskan lamunan tentang jika aku sudah menikah.

***

Ini adalah contoh tulisan kalau aku habis baca novel.