Diskusi soal kapan aku cuti gak pernah selesai. Setelah sebelumnya bertanya ke Ibu, temen sekolah, baca artikel, tentang kapan waktu yang paling tepat untuk mangembil cuti melahirkan, aku menyimpulkan bahwa aku mampu cuti ketika si dede sudah mau lahir, 1 februari 2019. Dengan pertimbangan jika ambil cuti jauh dari HPL, aku tidak akan punya kegiatan yang productive, dan hanya menghabiskan waktu dengan nonton drama korea.
Aku lagi nonton “The last empress”, mulanya sih gak begitu suka, karena aku gak sir sama karakter perempuan yang bego. Namun semakin ditonton… asik nih film. Asik banget.
Setelah berdebat panjang dengan hati nurani, memastikan jadwal off suami, lalu memikirkan rencana seru yang mungkin akan kami nikmati, akhirnya aku memutuskan cuti pada tanggal 10 januari 2019. Masih jauh ya…
Tapi, aku yakin inilah keputusan yang paling tepat dengan pertimbangan di dede udah mulai sering capek, eh tapi sebetulnya aku merasa lebih sehat dan kuat di trimester ini lho. Dede makin kooperatif gitu, hanya memang rasa kebelet pipis yang acapkali tidak bisa ditahan, atau keringetan bau yang bikin lengket, cairan tete yang rembes. Selain itu semua, dia sangat bisa diandalkan.
Beruntung aku punya teman yang bersedia untuk menggantikanku cuti selama kurang lebih 3 bulan kedepan. Teman itu bernama Dhoni, ketua angkatan kuliah yang rumahnya deket sekolah.
Lalu aku sejenak merenung…
Ini hari-hari terakhir aku di sekolah, aku banyak belajar dari pengalaman yang sudah berlalu. Aku bertemu anak-anak yang baik, yang kurang baik, yang suka belajar, yang suka bermalas- malasan, yang kayaknya sayang sama aku, yang kadang takut karena aku pernah sebal. Anak-anak pesantren yang meski jumpalitan tapi cepet banget hafalannya.
Selalu dalam tiap kesempatan, aku mencari anak-anak yang manjadi cermin saat aku sekolah. Bagaimana aku dulu di benak para guru ya… semoga bukan anak yang jadi bahan pikiran karena hal yang buruk. Semoga keturunanku juga menjadi anak-anak yang baik. Aamiin
No comments:
Post a Comment