Tuesday, January 08, 2019

Tentang Menjadi Pegawai Negeri

Drama ini telah dimulai sejak aku baru lahir. Kok gitu? Iya…

Bapak dan Ibu adalah guru yang di angkat jadi pegawai negeri saat Indonesia lagi butuh-butuhnya tenaga pendidik, jadi mereka di angkat hanya dengan mengumpulkan berkas. Itu terjadi kurang lebih 30 tahun yang lalu.

Menurut kisah yang diceritakan bapak, profesi guru jaman dulu adalah salah satu profesi yang tidak banyak diminati. Meski demikian, keluarga mbah yang keturunan petani memutuskan untuk terjun ke dunia yang sepi peminat itu. 

Dimulai dari mbah kakung Timan, Ngatiman Hadi Prasojo. Mbah kakung adalah kepala SD yang legendaris. Kemudian 4 dari 7 anaknya mengikuti jejak beliau, sehingga ke-4 nya juga mendapatkan istri/suami yang berprofesi sama, sama-sama guru. Termasuk bapakku, yang beristri ibu titin.

Sementara dari keluarga Ibu, juga demikian.

Lalu kehidupan berlanjut, meski orang tua kami mengarahkan anaknya menjadi guru bagi yang perempuan, tapi mereka memberi kebebasan kepada kami untuk memilih apa yang benar-benar ingin kami tekuni.

Saat kehidupan terus berlanjut itu, aku menemui kenyataan bahwa menjadi pegawai negeri melalui profesi guru tidak lagi hanya ngumpul berkas seperti 30 tahun yang lalu. Menjadi pegawai negeri sekarang diseleksi dengan begitu ketat. Sehingga kabar diterima PNS adalah kabar yang mengharukan, yang membanggakan.

Pengalaman pertama mendengar kabar haru semacam ini ketika aku SD, saat Mbak Nyai diterima PNS di Kabupaten Tanggamus. Pagi-pagi sekali bapak membeli koran dan mencari nama Martini, Alhamdulillah lolos! Murni. Ibu menelepon memberi kabar Mbak Nyai sambil suaranya serak menahan haru, di seberang sana juga mbak nyai yang belum tau kabar itu tersedu-sedu mendengar ibu.

Aku ikut nangis.

Beberapa tahun setelahnya, kabar baik kedua yang aku alami saat Mbak Tika yang diterima PNS kabupaten Pesisir Barat. Murni. Waktu itu gantian Mbak Nyai yang nelpon kami, mengabarkan kabar bahagia kepada Mbak Tika. Aku mendengarnya sambil sujud syukur. Nangis juga.

Dua pengalaman yang mengharukan itu membuat aku deg-degan, akankah suatu hari nanti aku sendiri juga akan mengalami hal ini?

Tahun berganti sampai aku lulus kuliah, belum ada pendaftaran CPNS. Lalu aku menikah.

Setelah menikah, aku mengalami kabar bahagia yang ketiga yang kini datang dari adikku Luthfi. Pengalaman saat dia sidang akhir jadi brimob. Aku yang waktu itu sedang morning sickness tiba-tiba gagah saat mendampingi Luthfi. Rasa haru begitu membuncah saat nama adikku ditampilkan sebagai ranking 1 dalam seleksi dan dinyatakan lulus jadi polisi. Murni. Rasanya langsung sehat. 

Aku bangga dengan semua pencapaian saudara-saudaraku, rasanya gak pengen berhenti pamer.

Hingga tiba giliranku, giliran aku yang berkesempatan ikut seleksi CPNS, tapi gak lolos. Aku belum jadi membawa kabar yang bahagia, tapi aku tidak berputus asa. Semua seperti sudah kutau, aku menjalaninya santai saja.

No comments: