Monday, September 23, 2019

Excitement

Liburan pekan ini kami isi dengan berlibur di rumah Ibu dan Bapak di purworejo. Aku sudah berazzam untuk tidak membuat keributan dengan speak up semuanya, pengen inilah pengen itulah, gak bisa inilah gak bisa itulah. Karena ternyata energi untuk berselisih bakal lebih banyak ketimbang aku membiarkan semuanya ditahan. Jadi berlibur kali ini beneran bukan akibat dari aku merengek minta pulang, kesempatan ini pure karena emang ditawarin mau pulang apa enggak. Nice.

Surprisingly, ketika ini terjadi yang aku rasain justru perasaan yang aneh sih. Excited tapi diambang batasnya, jadi yang terasa justru datar. Pernah gak sih ngerasain kayak gitu? Perasaan yang terjadi akibat dari campuran berbagai rasa, takut ketauan nangis karna terharu mau pulang, khawatir cuma sebentar, adaptasi lagi, struggling lagi… tapi yang terekspresikan malah datar. Tapi gak bisa tidur.

Lalu pas beneran sudah sampai rumah aku sakit.

Mungkin cuma aku yang ngerti bahwa sakit ini adalah ekspresi lain dari lanjutan kentut yang gak keluar itu. Aku tidak cerita siapapun, aku sibuk nyari suplemen, minum ultraflu karena gak nemu parasetamol, terjemahan dari sakit ini juga bisa berarti sangking rilexnya, merasa oke ada Ibu jadi aku sakit gak papa, Ais bisa diurus Mbak Tika.

Terus besoknya sudah hari minggu.

Qodarullah, Lupi dapat tugas ikut teratai pora di teluk betung. Menjelang siang, setelah Ibu beli oleh-oleh se-tas besar berisi aneka keripik, kami menuju kesana. Menemui Lupi yang sudah berbulan-bulan gak pulang, aku sendiri sudah 7 bulan lebih gak ketemu, terakhir saat dibandara nganterin dia berangkat dines, itupun kebetulan aja.

Dia kayaknya tidak banyak berubah.

Aku nangisan, Mbak Tika nangisan, Ibu apalagi. 

Tuesday, September 17, 2019

Kematian Terus

Sering banget ya aku ngebahas soal kematian? Pengen mati, kalau mati, giliran mati beneran, emang siap? Atau kalau ditinggal mati?

Hmmm.

Aku mau cerita tentang dua teman sekolahku. Sama-sama perempuan, sama-sama sudah menikah.

Pertama kali aku ketemu dia, sebut saja mawar, saat kami mau tes wawancara di sekolah. Pada pertemuan pertama itu, dia sudah cerita kalau dia adalah janda dengan 2 anak perempuan. Suaminya meninggal saat berangkat kerja, waktu itu dia sedang hamil tua anak kedua. Really.

Aku terduduk, ternganga.

Cerita lainnya ketika kembali ngajar setelah cuti melahirkan yang luama banget, aku ketemu pegawai baru yang boleh kita sebut sebagai melati. Dia menawan, Idolaku. Pertama kali ketemu aku menabak jika masih single, melati adalah perempuan independen high-class. Kalau dia sudah menikah, dia pasti punya kehidupan pernikahan yang indah, intim, bebas. Meski sebenernya dia keliatan kurang friendly, karena tipe wajahnya tegas jadi berkesan judes.

Nyatanya enggak. Cukup sebulan untuk tau bahwa dia masyaa Allah, baik.

dan… Janda.

Suaminya meninggal ba’da sholat ashar ketika otw ke TKP, polisi.

Sekarang dia sendirian.

Kadang update status di whatsApp, dia rindu suaminya. Oh God.

Kepada teman-temanku yang takdirnya sebegitu sedih (buatku), again aku bukan iba, oh God, they are special, kalau mau kasihan justru aku kasihan sama diriku yang emang jarang mensyukuri keberadaan orang yang sekarang ada buat aku, masih bisa ditanya apa kabar, udah makan belum, ayo berantem.

Aku ngeri ngebayangin bakal mati atau ditinggal mati karena pasti sedih dan rindu banget ya? Meskipun yang ditinggalkan gak cuma kenangan yang baik.

Dan kalau boleh berandai-andai, jika takdirnya aku yang mati duluan, Ais gak boleh punya ibu tiri. Ini jadi semacam entry yang isinya adalah sebuah wasiat. Hehe

Dia (suamiku) boleh punya pendamping, maybe kehidupannya bakal lebih bahagia dari pada sama aku, tapi pendampingnya gak bakal bisa jadi ibu buat Ais.

Ais akan diasuh ibu Titin atau mbak Tika. Kelak saat dia dewasa dan akan dipinang, Ais hanya boleh dinikahkan dengan laki-laki yang sholeh dan punya rumah sendiri.

Ais harus bahagia, dia boleh menentukan pilihannya (selama pilihannya adalah pilihan yang tidak melanggar syariat) mau berprofesi apa, siapapun tidak berhak mengintervensi.

Btw, laporanku di alam barzakh gimana ya.

a Whole New World

Pernah gak sih kalian ngerasa anjir takdir gue gini amat ya.

Pernah dong.

Lalu mengutuk diri sendiri karena terlalu nekat kawin padahal gak ada bekal apa-apa. I know, some people pengen banget menikah dan gue sudah sampai disini, lulus kuliah, menikah muda, born a beautiful daughter. Kalau gue jadi someone else ngeliat ada orang hidup kayak gue mungkin bakal hmmm asik ya hidup lo. Udah beresan tinggal ngelanjutin apa yang ada.

Sawang sinawang.

Sampai sekarang gue juga masih gitu ke semua orang.

Enak ya, lo dan pacar lo sama-sama jadi PNS terus nikah. Enak ya, lo nikah langsung punya anak tinggal di rumah sendiri suami deket lagi. Enak ya, lo kelar sarjana bisa langsung sekolah magister. Enak ya, lo masih single bisa ngapain aja.

Lalu ditambah nontonin ig stories selebgram.

Lah.

Gimana ya, gue emang ngerasain hal kayak gini dan emang belom bisa dealing apalagi healing.

Gue tetep melanjutkan hidup, salah gue perbaiki, kurang gue tambahi, cukup gw sudahi. Tapi kan gak asiknya hidup gue bukan sekedar karena sebel liat orang lain keliatannya lebih bahagia. Sebel macam gini adalah pelampiasan dari sesuatu yang lebih besar, lebih dalam, lebih rahasia. Yang gue sendiri gak ngerti cara jelasinnya gimana dan kesiapa.

Sebelum gue menjadi sangat berhati-hati kayak sekarang, gue pernah punya sebuah buku diary. Gue menulis dan cerita semua tanpa rem. Awalnya dengan bahasa yang santun, yang dibuat puitis, pakai pengibaratan. Lama-lama menjadi terlalu faktual, kampret adalah kampret, dan pengen mati aja. Gak lama gue tau bahwa sembarangan kayak gitu memicu bencana. Bencana like beneran bencana bukan bencana sederhana yang otak kalian biasa kira. Semua memang keluar kayak tai, lega… perut akhirnya kosong. Tapi gue pup ditempat yang salah, gak ada air. Tai kan bau.

Gue seperti halnya animal lain, tau salah lalu nyoba pakai cara lain. Sayangnya cara yang gue pilih adalah dengan gak pup. Gue membiarkan diri gue sakit perut, tainya keras, wasir.

Yang paling penting kan gue gak kena marah karna orang lain kebauan. tho?

Monday, March 18, 2019

Due Date

Halo semua, aku mau sharing tentang pengalaman pertama aku melahirkan anak ke dunia. Sebelumya, aku mau ingetin bahwa pengalaman ini adalah apa yang aku alami, tiap wanita punya pengalaman yang berbeda, jadi kamu tidak boleh judging ya.

Baiklah, aku akan mulai dengan suatu momen di hari sabtu saat aku terbangun pukul 2 dini hari. Sejak awal kehamilan, aku punya kebiasaan pipis 3-6 kali sepanjang malam. Hari itu, saat aku terbangun untuk pipis, aku melihat darah kecoklatan di pantilinerku, aku shock. Aku tidak mengalami flek atau blooding selama masa kehamilan, sehingga melihat hal itu aku menjadi kaget dan merasa khawatir dengan kondisiku. Setelah pipis, ternyata ada darah segar yang nempel di pentiliner baru, dan tak lama kemudian aku mulai menyadari adanya kontraksi di rahimku. Sebetulnya saat bobo juga aku merasakan ini, tapi aku khusnudzon kalau ini hanya sakit perut biasa karena kelamaan nahan pipis.

Karena panik, pertama, dan memang sudah masuk 39 minggu 6 hari, aku memutuskan minta di bawa ke RS dekat rumah, wow iam excited. Masuk IGD, lalu diobservasi, belum ada bukaan. Guys, cek bukaan tuh di cek lebar bukaan di vagina pakai jari bidan/dokter loh btw. Karena sakit yang aku rasain cuma kontraksi yang jarang, jadi aku sadar banget saat di cek bukaan, I mean "loooh gini ya rasanya". Lalu bla-bla-bla aku di infus, dan yaaa ini pertama kali aku di infus sepajang hidup.

Singkat cerita, aku sudah di kamar dan bobo lagi karena kengantukan. Beberapa kali perawat visit untuk liat kondisi aku. aku bertemu mbak sarah, mbak cantik dan baik yang auranya menyenangkan. Aku jadi lebih optimis mau lahiran. Sebangun dari tidur jam 6 pagi, kontraksiku hilang… hilang… hilang… kontraksiku hilang…

Menyadari hal itu, aku berinisiatif untuk melakukan hal-hal yang memicu kontraksi, jalan-jalan di depan halaman kamar, jongkok berdiri, sambil berharap akan terjadi bukaan hari itu. Masih pagi aku masih optimis, setiap ditanya perawat jaga, aku menjawab dengan jujur semua yang aku rasakan, dalam hati pongah bilang “gini doang ya rasanya…aku kira bakal sakit yang gimana”, dan aku masih berdarah.

Pagi beranjak, siang berlalu, sorepun datang… dokter indrawan, dokter yang aku pilih untuk mengawasi kehamilanku, visit, menyimpulkan yuk usg dulu, aku dibawa ke ruang dokter dengan menggunakan kursi roda, oya hari itu aku seperti princess yang semua dilayani, rasanya aneh, asing, kayak ada yang gak siap gitu, dan aku sehat… hasil usg menunjukkan plasenta aman, ketuban cukup, adek sehat, beratnya 3.8 kg. Lalu kami ngobrol… gimana, mau pilih tunggu sampai besok disini, atau mau pulang aja?

Kita tunggu sampai malam, kalau ada kontraksi lagi, kita nginep. Dan sampai isya gak ada, hmmm. Gimana nih, pulang aja apa ya? Tapi aku masih berdarah.

Oke, kita pulang.

Di rumah aku istirahat dan tidak menduga bahwa pukul 11.00 aku mengalami kontraksi yang oh ini baru namanya kontraksi. Tapi tidak mau gegabah, aku menunggu rasa sakit itu beneran nyata dan intens sampai pukul 04.00, pokoknya sampai gak tahan. Sudah yakin sakitnya, kami berangkat lagi. Aku menjalani pemeriksaan yang sama seperti kemarin pagi, tapi dengan focus yang kabur-kaburan karena duhhh sakit bener cui. Tambah beban akan menjalani pemeriksaan dalam.

Alhamdulillah bukaan 1.

Oke kita pesan kamar lagi. Sakit masih berlanjut ya… dan semakin menyakitikan. Di kamar aku hanya bisa aduh-aduh dan khawatir karena masih bukaan 1 tapi kok sakitnya sakit ya. Jam 07.00 di cek lagi, bukaan 3 eh ada kemajuan… wah lahir hari ini si dum-dum.

Jam 8 ibu bidan menawarkan untuk masuk ruang tindakan. Aku moh. Masih bukaan 3 ke ruang tindakan, nanti apa gak kelamaan disana, terus barengan sama bumil lain yang lagi kesakitan. Aku akan lebih stress.

Tapi Masyaa Allah… jam 9 aku sudah kesulitan mengendalikan diri. Sakitnya luar biasa… luar biasa…

“Ayo kita ke ruang tindakan mas…”

Bener kan, disana ada 1 orang bumil lain yang sedang berjuang melairkan, sama sama anak pertama. Dia mengaduh sesekali. Ruangan hanya disekat tirai. Jadi aku sangat jelas mendengar teriakan bu bidan “eh bukaan lengkap…” lalu gemeruduk mereka siap siap proses bersalin. Kurang dari 15 menit yang mendebarkan si bayi lahir.

Bagaimana perasaanku mendengarnya?

Aku memeluk suamiku, beliau mencup cup aku agar tidak tambah nervous.

Tak lama kemudian, sakit yang aku rasakan semakin heboh. Tadi kan aku bilang sakit luar biasa ya udahan, nah ini lebih sakit dari sakit yang luar biasa. Rasa sakit yang tiap aku tanyakan kepada ibu-ibu yang pernah melahirkan dijawab “Tidak ada pembandingnya ridha…”

Saat seperti ini yang aku alami selain sakit adalah khawatir, gak selaw. Aku mengira akan putus asa beberapa detik kemudian, dalam hatiku bisikan “udah minta sc aja… udah minta sc aja” terus berderung-derung, padahal sebenernya rasanya akan sama saja. Aku hanya ingin segera mengakhiri rasa sakit ini gaes. Aku ratahannn meneh jika harus menunggu lebih lama.

Mengalami rasa seperti ini membuat aku yang suka menantang mati menjadi ciut. Ya Allah, ternyata sesakit ini ya, aku menyesal sungguh amat menyesal sering menantang mati ya Allah. Melahirkan membuat kita menampilkan diri kita yang sesungguhnya. Melahirkan membuat kita tau manusia macam apa kita sebenarnya.

Dan di saat paling gak bisa lagi di tahan tiba-tiba terasa & terdengar balloon pecah dari siniku. “pyuk” atau “blar” atau “jedum” lalu aku reflek teriak “ketuban aku pecaaah…”

Than semua tenaga medis yang menolong persalinanku datang dengan tenang, bukaan lengkap katanya. Aku lega. Legaaa. Rasa sakit nya mulai berkurang dan aku malah rileks. Dengan dipandu oleh dokter, aku mulai mengejan. “oke… dorong saat ada kontraksi ya… hanya saat kontraksi bla bla bla” sambil mendengarkan support dari mereka aku mengejan dan terus mengejan “krek” lalu “krek” bunyi suara tambahan jalan lahir. Tak lama ais keluar… aku kaget, bingung, lebih lega lagi. Lalu IMD. Lalu proses bersih-bersih rahim dan penjahitan yang aku tak lagi rasakan sakitnya.

Masyaa Allah.

Melahirkan begitu indah gaes…

Friday, January 18, 2019

Beli Buku Yuk!

Semua calon orang tua mungkin akan melakukan hal-hal seperti aku sekarang, merencanakan tiap detail pengasuhan yang akan dilakukan pra dan pasca melahirkan. Aku sedang semangat sekali mencari ilmu tentang parenting, agar aku cukup bekal untuk mengasuh anak kami.

Lalu, munculah sebuah ide yang tak sabar aku wujudkan, yaitu membeli buku. Sebuah rencana membeli buku secara rutin tiap bulan, ini adalah permulaan hebat bukan hanya untuk Aisha, tapi juga untukku. Sejak dulu, aku termasuk orang yang pelit sekali kalau soal belanja buku, meski bukan berarti aku gak pernah beli buku ya, aku beli buku, tapi tidak rutin. Hanya ketika uangku benar-benar terasa banyak misalnya dari sangu lebaran.

Kesenanganku dalam membaca selama ini difasilitasi oleh kakak ita, perpus sekolah, dan e-book gratis yang beredar di internet. Pernah suatu kali aku meluangkan waktu mendownload banyak sekali e-book untuk kubaca setelah dibelikan notebook touchscreen yang bisa dilipat. Sepertinya keren sekali. Setelah beberapa waktu, aku merasakan tidak nyaman membaca di notebook, karena berat dan gak punya meja belajar lipat. Lalu munculah ide untuk beli buku kertas saja.

Sejak ide itu muncul, secara kebetulan aku seperti menemukan motivasi tambahan untuk mewujudkannya. Pertama, aku semakin tidak nyaman bacain cerita Aisha pakai aplikasi dongeng di Hp, karena mataku mudah lelah dan pedih. Kedua, saat aku berkunjung ke rumah kakak ita, aku melihat koleksi bukunya semakin bertambah, ingin aku meminjam tapi takut sulit mengembalikan karena tidak tinggal di purworejo lagi. Ketiga, aku melihat Ghaisan dan Yasmin ketika di kenalkan buku oleh bundanya, terlihat sangat antusias, meski Yasmin bacanya kebalik, tapi itu sungguh pemandangan yang seru dan haru. Dan terakhir, aku sering jenuh sekali ketika menunggu sesuatu, main hp atau ngobrol adalah hal yang tidak aku sukai, mungkin membaca buku akan lebih menyenangkan.

Dengan izin Allah SWT dan dengan semua motivasi yang telah aku dapatkan, akhirnya terwujudlah ide hebat itu, pada hari sabtu bulan januari ini, aku membeli buku untukku dan Aisha, semula aku ingin membuat ide ini berlaku untuk suamiku juga, tapi hari itu dia tidak begitu tertarik memilih manga, jadi hanya kami berdua yang dibelikan buku. Kisah 25 Nabi dan Rasul buat Aisha, dan Novel Si Anak Cahaya untuk aku.

Benar saja, membaca buku untuk Aisha menjadi lebih menyenangkan dan menunggu bagiku sudah bukan masalah. Yeay, Alhamdulillah!

Wednesday, January 16, 2019

Thoughtful Eating

Aku mau bercerita soal makanan nih. Apakah kamu termasuk orang yang kesulitan menentukan makanan kesukaan? Atau bisa menyebutkannya, namun tidak begitu yakin bahwa jawaban kamu itu benar-benar akurat? Karena selera kamu sangat cepat berubah?

Tos!

Berbeda dengan suamiku yang tau betul makanan kecintaannya, tau betul enaknya kita makan apa sekarang, aku tidak. Aku tidak mahir dalam merasakan makanan, makan buatku adalah sebuah proses pemasokan kalori udah itu aja, dan jika aku telat makan maka aku akan pusing dan marah-marah.

Bagi suamiku yang masih terus bercita-cita menjadi chef dan punya restoran, makan adalah sebuah proses yang begitu syahdu, dilumatnya makanan dengan penuh rasa cinta dan gairah. Aku sudah mencoba ikut-ikutan, tapi aku tidak bisa, aku tidak bisa mendalami peran dengan baik.

Tapi, beberapa hari ini aku menemukan kenikmatan dalam makan sesuatu!

Aku benar-benar merasakan kelezatan yang membuat aku tidak ketagihan tapi bersyukur.

Ialah… arem-arem pedas yang dijambal sama bakwan dan pas pedes-pedesnya di minumin teh panas, aduhai! Itulah kenikmatan tiada tara yang berhasil aku rasakan. Rasa itu ibarat dahaga yang diminumi, ibarat rindu yang akhirnya bertemu, Puas, lega…

Akhirnya, aku berencana membuat anakku menyadari apa yang ia rasakan ketika makan, aku akan membiasakan ia untuk makan dengan focus. Sejak kecil nanti, aku ingin melatihnya untuk sadar kapan dia lapar, menikmati tiap suapan makanannya, dan juga tau kapan harus berhenti. Ah, lucunya…

Monday, January 14, 2019

Selamat Menjalani Kehidupan Lain, Kamu!

Kurang dari sebulan ini, usia pernikahanku akan genap 1 tahun. Selain kepikiran soal membuat anniversary, aku juga sempat kepikiran soal teman-temanku. Setahun pernikahan juga berarti setahun sudah aku berpisah dari kehidupan pertemanan yang aku jalani sebelumnya. Sampai hari ini aku memang tidak pernah lagi sengaja melakukan peremuan dengan mereka, jadi aku tidak pernah lagi bertemu dengan siapapun, papasan pun tidak.

Tapi aku tetap melihat dan tau kabar mereka melalui social media, ada yang melanjutkan dengan bekerja, sekolah pasca sarjana, bahkan ada yang menikah seperti aku. Malah, baru-baru ini aku dapat kabar banyak diantara temanku yang lolos jadi PNS.

Selain tau mereka lagi ngapain, aku juga tau bahwa diantara meraka ada yang masih menjadi teman akrab. Masih main bareng dan saling berkunjung.

Bagaimana dengan beberapa tahun kedepan ya? Bagaimana kehidupanku dan teman-temanku. 

Adakah kemungkinan aku akan bertemu mereka lagi, menjadi akrab lagi. Atau sebaliknya, aku hanya mungkin bertemu jika ada acara reuni, acara yang mungkin tidak akan pernah aku hadiri.

Prolog panjang yang tidak begitu penting ini sebetulnya adalah upaya ku menahan diri untuk tidak membocorkan rahasia besar salah satu orang yang ingin sekali aku lupakan, dia melukai hatiku, dan semakin aku terluka karena tidak ada orang yang tau sehingga kehidupannya baik-baik saja, temannya banyak, aku jadi sebal. Bagaimana tidak… ah, sudahlah. Siapa peduli? Hahahaha.

Sunday, January 13, 2019

Kasmaran

Aku udah pernah cerita belum, soal aku dan suami yang LDR tiap sebulan sekali?

Jadi, suamiku kerja di sebuah kondisi yang mengharuskan dia meninggalkan aku di rumah. Tidak bisa bawa keluarga, tidak bisa bawa siapa-siapa. Nama profesinya petroleum engineer.

Lama waktunya sangat fleksibel, bisa 2 bulan di lokasi, lalu off sebulan. Atau sebulan di lokasi, lalu off dua minggu. Tidak ketemunya aku sebulan, dua bulan dengannya membuat aku mengalami siklus kasmaran yang berulang. Tiap bertemu pertama kali, di stasiun kereta, di bandara, atau pas aku tidak ikut jemput dan di rumah saja, aku akan salting untuk beberapa hari.

Seminggu pertama pulang aku merasakan kehidupan yang lengkap sekali, dua minggu makin ketergantungan, lewat itu aku sangat kesulitan membayangkan akan di tinggal lagi karena rasanya jiwaku sudah nemplok tidak mudah lepas. Biasanya jika teringat itu aku akan ngintil kemanapun dia pergi.

Tidak hanya aku, dia juga kesulitan. 

Saat berputus asa, kami suka berandai-andai bagaimana jika kita putuskan dia resign, lalu kerja seadanya disini, serabutan, jual apa saja yang mungkin laku di jual. Tapi urung, karena saat ini dialah tulang punggung kami, mambayangkan dia melepas kerja demi sesuatu yang belum pasti membuat aku begidik sendiri, ada anak yang harus disuapi, dibelikan baju & buku, disekolahkan.

Lalu ya sudah, satu-satunya hal yang bisa kami lakukan adalah bersabar. Kalau mau menangis, ya menangislah, kalau mau sebal, ya sebalah, kalau mau marahan, ya marah lalu baikan.

Kami sama-sama tidak ngerti bagaimana bisa berpindah dari kondisi yang sekarang, rasanya mau mulai diskusi saja gak sampai, seperti hanya menunggu keajaiban, tiba-tiba saat daftar kerja diterima lalu lolos sampai jadi pegawai tetap yang dianugerahi pekerjaan yang membuat kami dapat berkumpul, tinggal serumah bersama-sama.

Aamiin

Tuesday, January 08, 2019

Tentang Menjadi Pegawai Negeri

Drama ini telah dimulai sejak aku baru lahir. Kok gitu? Iya…

Bapak dan Ibu adalah guru yang di angkat jadi pegawai negeri saat Indonesia lagi butuh-butuhnya tenaga pendidik, jadi mereka di angkat hanya dengan mengumpulkan berkas. Itu terjadi kurang lebih 30 tahun yang lalu.

Menurut kisah yang diceritakan bapak, profesi guru jaman dulu adalah salah satu profesi yang tidak banyak diminati. Meski demikian, keluarga mbah yang keturunan petani memutuskan untuk terjun ke dunia yang sepi peminat itu. 

Dimulai dari mbah kakung Timan, Ngatiman Hadi Prasojo. Mbah kakung adalah kepala SD yang legendaris. Kemudian 4 dari 7 anaknya mengikuti jejak beliau, sehingga ke-4 nya juga mendapatkan istri/suami yang berprofesi sama, sama-sama guru. Termasuk bapakku, yang beristri ibu titin.

Sementara dari keluarga Ibu, juga demikian.

Lalu kehidupan berlanjut, meski orang tua kami mengarahkan anaknya menjadi guru bagi yang perempuan, tapi mereka memberi kebebasan kepada kami untuk memilih apa yang benar-benar ingin kami tekuni.

Saat kehidupan terus berlanjut itu, aku menemui kenyataan bahwa menjadi pegawai negeri melalui profesi guru tidak lagi hanya ngumpul berkas seperti 30 tahun yang lalu. Menjadi pegawai negeri sekarang diseleksi dengan begitu ketat. Sehingga kabar diterima PNS adalah kabar yang mengharukan, yang membanggakan.

Pengalaman pertama mendengar kabar haru semacam ini ketika aku SD, saat Mbak Nyai diterima PNS di Kabupaten Tanggamus. Pagi-pagi sekali bapak membeli koran dan mencari nama Martini, Alhamdulillah lolos! Murni. Ibu menelepon memberi kabar Mbak Nyai sambil suaranya serak menahan haru, di seberang sana juga mbak nyai yang belum tau kabar itu tersedu-sedu mendengar ibu.

Aku ikut nangis.

Beberapa tahun setelahnya, kabar baik kedua yang aku alami saat Mbak Tika yang diterima PNS kabupaten Pesisir Barat. Murni. Waktu itu gantian Mbak Nyai yang nelpon kami, mengabarkan kabar bahagia kepada Mbak Tika. Aku mendengarnya sambil sujud syukur. Nangis juga.

Dua pengalaman yang mengharukan itu membuat aku deg-degan, akankah suatu hari nanti aku sendiri juga akan mengalami hal ini?

Tahun berganti sampai aku lulus kuliah, belum ada pendaftaran CPNS. Lalu aku menikah.

Setelah menikah, aku mengalami kabar bahagia yang ketiga yang kini datang dari adikku Luthfi. Pengalaman saat dia sidang akhir jadi brimob. Aku yang waktu itu sedang morning sickness tiba-tiba gagah saat mendampingi Luthfi. Rasa haru begitu membuncah saat nama adikku ditampilkan sebagai ranking 1 dalam seleksi dan dinyatakan lulus jadi polisi. Murni. Rasanya langsung sehat. 

Aku bangga dengan semua pencapaian saudara-saudaraku, rasanya gak pengen berhenti pamer.

Hingga tiba giliranku, giliran aku yang berkesempatan ikut seleksi CPNS, tapi gak lolos. Aku belum jadi membawa kabar yang bahagia, tapi aku tidak berputus asa. Semua seperti sudah kutau, aku menjalaninya santai saja.

Sunday, January 06, 2019

Bosan

Aku senang libur panjang, aku senang tidak punya tugas yang harus dilakukan dengan banyak berpikir berat. Aku senang hanya jalan-jalan, sarapan, ngantuk, lalu bobo siang. Namun, kian lama hal-hal menyenangkan itu jadi sangat membosankan. Kepala ini terasa kendor karena tidak kubuat mikir, tidak aku bacakan sesuatu, hanya kupenuhi dengan cerita drama yang ketika episodenya habis tidak meninggalkan apa-apa.

Duh, bosan.

Meski sudah mulai ngajar lagi, hari minggu sehari libur tetap membuat aku bosan juga. Aku sudah mengisi dengan makan petis, bubur, istirahat, tapi perasaan jenuh malah semakin membuat aku jadi tidak berhasrat. Aku tidur dengan banyak pikiran kosong.

Sejak beberapa waktu lalu aku memang meninggalkan kebiasaan mambuat resolusi dengan detail, ya semacam bosan dan gak jelas gitu lho. Sepanjang berkebiasaan menulis semua wish list, saat di evaluasi nyatanya aku tidak menemukan suatu pencapaian yang amazing. Lama-lama jadi bosan. Aku tau, apa yang aku tulis memang bukan sesuatu yang diusahakan dengan sungguh-sungguh.

Aku tidak pernah bersungguh-sungguh.

Selain membuat undangan nikah, ngedit video, aku memang bukan perempuan yang kesungguhan usahanya sekeras baja. Hal-hal yang dilakukan selalu semampuku, semampu aku pengen. Sehingga hasilnya juga gak seberapa worth it. Setelah bosan tidak sungguh-sungguh, aku kian bingung dan tersalah langkah. Eaaah.

Aku butuh petunjuk untuk meneruskan kehidupan ini, aku butuh teman. Menikah membuat aku jadi bergantung. Membuat tidak percaya diri dengan independensi.

Dan LDR, membuat komunikasi tidak optimal. Bukan soal LDRnya,tapi apa yang dikerjakan saat LDR, dia bekerja dan tidak punya cukup waktu untuk membahas hal-hal krusial yang mendadak kepikiran. Bicara setelah menikah tak cukup hanya modal kontak telepon, butuh kontak yang lain juga. Eye contact.

Karena yang dibicarakan hal yang semakin penting dan dewasa, hal tentang besok mau makan apa.

Saturday, January 05, 2019

Cuti Melahirkan

Diskusi soal kapan aku cuti gak pernah selesai. Setelah sebelumnya bertanya ke Ibu, temen sekolah, baca artikel, tentang kapan waktu yang paling tepat untuk mangembil cuti melahirkan, aku menyimpulkan bahwa aku mampu cuti ketika si dede sudah mau lahir, 1 februari 2019. Dengan pertimbangan jika ambil cuti jauh dari HPL, aku tidak akan punya kegiatan yang productive, dan hanya menghabiskan waktu dengan nonton drama korea.

Aku lagi nonton “The last empress”, mulanya sih gak begitu suka, karena aku gak sir sama karakter perempuan yang bego. Namun semakin ditonton… asik nih film. Asik banget.

Setelah berdebat panjang dengan hati nurani, memastikan jadwal off suami, lalu memikirkan rencana seru yang mungkin akan kami nikmati, akhirnya aku memutuskan cuti pada tanggal 10 januari 2019. Masih jauh ya…

Tapi, aku yakin inilah keputusan yang paling tepat dengan pertimbangan di dede udah mulai sering capek, eh tapi sebetulnya aku merasa lebih sehat dan kuat di trimester ini lho. Dede makin kooperatif gitu, hanya memang rasa kebelet pipis yang acapkali tidak bisa ditahan, atau keringetan bau yang bikin lengket, cairan tete yang rembes. Selain itu semua, dia sangat bisa diandalkan.

Beruntung aku punya teman yang bersedia untuk menggantikanku cuti selama kurang lebih 3 bulan kedepan. Teman itu bernama Dhoni, ketua angkatan kuliah yang rumahnya deket sekolah.

Lalu aku sejenak merenung…

Ini hari-hari terakhir aku di sekolah, aku banyak belajar dari pengalaman yang sudah berlalu. Aku bertemu anak-anak yang baik, yang kurang baik, yang suka belajar, yang suka bermalas- malasan, yang kayaknya sayang sama aku, yang kadang takut karena aku pernah sebal. Anak-anak pesantren yang meski jumpalitan tapi cepet banget hafalannya.

Selalu dalam tiap kesempatan, aku mencari anak-anak yang manjadi cermin saat aku sekolah. Bagaimana aku dulu di benak para guru ya… semoga bukan anak yang jadi bahan pikiran karena hal yang buruk. Semoga keturunanku juga menjadi anak-anak yang baik. Aamiin

Friday, January 04, 2019

Jalan jalan di Mall

Aku kenal tempat bernama “mall” ketika masih SD. Ketika liburan di rumah bude di teluk, sepupuku mengajak pergi ke mall untuk melihat-lihat aksesoris. Dari pengalaman-pengalaman itu, aku menyadari bahwa aku begitu sangat amat bahagia melihat aksesoris. Aku begitu suka dengan mall.

Semakin gede, aku jadi semakin bergairah pergi ke mall. Bukan hanya aksesoris, tapi semua sudut mall aku jelajahi, lihat ini dan itu.

Hingga aku menikah, salah satu hal yang aku rengeki dari suamiku ketika dia libur kerja adalah jalan-jalan ke mall. Hingga suatu hari terjadi sebuah momen aneh yang membuat aku jadi…

Begini ceritanya.

Pada hari sabtu sebelum dia berangkat kerja, kami sekeluarga pergi ke mall untuk mencari stroller lipat keponakanku. Jalanan begitu ramai, begitu juga mall yang kami kunjungi. Hari itu aku tidak pakai baju dan kerudung dengan nyaman, tidak pakai day cream dan lipstick, serta membawa tas yang terlalu berat.

Setelah muter-muter dan kelelahan, aku duduk di kursi sambil menunggu keponakanku main di timezone. Aku duduk melihat orang berlalu lalang. Aku takjub, wow… inilah kehidupan mall pada weekend. Begitu banyak orang dengan baju yang bagus, ada yang dandan ala hijaber, ada yang santai pakai hotpants, ada yang pakai sepatu gaul, sendalan doang, ada yang kulitnya putih, yang eksotis tapi cakep-cakep.  Lampu mall membuat hari itu menjadi hari yang mirip seperti di novel.

Mall pada weekend adalah mall yang penuh dengan pasangan muda mudi yang mau nonton di bioskop, keluarga kecil, keluarga besar seperti kami, girls squad, maba, mahasiswa tingkat akhir, dan lain sebagainya.

Pada lain hari di mall juga sebetulnya begini, tapi hari itu mall ramai sekali. Penampilan orang-orang begitu bervariasi. Sambil melihat, sambil aku menebak kemungkinan latar belakang mereka. Berapa banyak duit yang mereka miliki. Lalu aku tertegun…

Wow. Luar biasa.

Tuesday, January 01, 2019

Awal Tahun

Mulai hari ini, aku telah membulatkan tekad untuk mulai menulis lagi. Aku ingin membuat kehidupan yang aku jalani menjadi terekam dalam tulisan-tulisan harianku.

Aku mengira dengan menulis semua yang aku alami dan aku rasakan, bahkan mungkin yang aku pikirkan, aku bisa dengan mudah melakukan evaluasi demi perbaikan kehidupan di masa yang akan datang.

Menilik semua yang sudah terjadi di tahun 2018 lalu, ada beberapa hal yang saat ini menjadi bahan pikiran dan ingin aku perbaiki di tahun 2019. Tentang apa saja ya?

Bunda
Tahun ini, Insyaa Allah aku akan menjadi bunda untuk pertama kali. Dan sampai kehamilan ke-34 minggu, aku belum benar-benar memiliki agenda atau rencana yang jelas tentang bagaimana akan menjadi bunda. Jadi, saat suamiku pulang nanti, aku akan mengajaknya merencanakan kehidupan anak cinta pada tahun pertama kelahirannya.

Untuk melakukan semua itu, aku akan mulai rutin membaca dan menonton video parenting. Hmmm, ide bagus.

Istri
Menjadi istri selama hampir 300 hari ini, aku ketunggon suamiku hanya beberapa waktu. Mungkin tidak setengahnya, dia punya kewajiban bekerja di luar kota dan hanya bisa dilakukan dengan meninggalkan aku di rumah ibunya.

Di tahun ini, aku ingin menjadi istri yang tinggal bersama suami dan anak lebih lama. Aku ingin menjadi istri yang lebih bahagia. Dengan semakin rajin mencoba resep baru, ikut pengajian ibu-ibu, punya hidroponik, dan cantik.

Aku harus jadi istri yang cantik.

Lain-lain.
Soal lain lainnya ini, banyak sekali daftarnya. Biasanya terjadi mendadak, tapi dengan kuasa Allah, kami bisa melewati dan mengambil pelajaran darinya. Pada tema lain-lain ini aku ingin dengan jelas membuat listnya, tapi aku beralasan masih belum mandapatkan petunjuk apa yang harus aku inginkan, aku perjuangkan.

Di tahun ini, aku ingin menemukan semua hal menjadi jelas dan terarah.

Aamiin