Saturday, October 28, 2017

Ziarah Kubur

Hari ini listrik padam dari siang sampai menjelang magrib, sehingga aku terkantuk-kantuk ketika membaca buku “Menjelajah Alam Roh” karena langit di teras rumah mulai gelap. Lalu aku melipir ke kamar untuk membaringkan badan, nguap-nguap mencoba tidur tapi tidak sampai pulas, sehingga perutku kembung saat dipaksa bangun.

Sekarang ini aku memang sedang tidak punya kegiatan yang menguras tenaga dan pikiran, semua kegiatan yang kujalani sangat santai dan penuh hiburan. Menanam sayuran, membuat pupuk, memasak nasi goreng, mengerjakan soal matika SMP, nonton film, hmmm. Karena tidak terbiasa dengan suasana yang seperti ini, aku jadi suka merasa bersalah, senang memang tapi pasti ada sesuatu yang lebih seru untuk diselesaikan.

Anyway, setelah aku perhatikan pundak ini memang agak membungkuk kedepan, mungkin karena kebiasaan yang salah ketika duduk atau berjalan. Nah, mungkin ini salah satu perbaikan yang akan aku lakukan mulai sekarang, membetulkan posisi pundak. Posisi stand up princess.

Oya, Aku punya cerita duka temanku kemarin. Tragedi kecelakaan maut yang menimpa calonnya sehingga kini mereka tidak lagi berada di alam yang sama. Cerita ini sungguh tragis, sedih, dan dekat. Bagaimana mungkin, malam itu di grub kampung Purworejo heboh dengan adanya kecelakaan di jalan depan Kompi Gedong Tataan, sempat aku lihat foto korban dengan posisi tengkurep dan innalillahiwainnailaihirajiuun itu tersebar. Saat itu aku hanya mengira-ngira siapa mungkin orang jauh, namun paginya kaget karena ia adalah calon temanku yang sama-sama tinggal di pesawaran. Ya Allah.

Kemudian siangnya aku bersama beberapa teman bertakziah dan mendengar langsung bagaimana kronologi kecelakaan serta kisah yang mengiringinya. Hatiku nyeri. Temanku masih tak percaya dengan apa yang terjadi barusan, barusan semalam. Wah. Aku terus menyimak sambil berkali kali istighfar. Maut… maut… kita tidak pernah tau kapan datang. Sebelumnya aku juga pernah bertakziah ke beberapa teman sepantaran atau adik tingkat. Ternyata meninggal mah bisa pas muda ya, bisa kapan saja. 

Aku tak berlama-lama disana, sebelum pulang kami mampir ke pusara beliau untuk berziarah kubur. Ternyata berziarah seperti itu akan lebih terasa nyatanya kalau memang kita bakal wafat suatu hari nanti. Sudah lama aku tak begini. Saat melihat kuburan, saat melihat bebungaan, terbayang bagaimana nanti kita akan sendirian. Menghadapi pertanyaan malaikat, mempertanggung jawabkan amalan di dunia ini, mempertanggungjawabakan kelakuan yang pernah kurang ajar. Ya Allah… semoga aku khusnul khotimah, semoga kita semua khusnul khotimah.

Friday, October 27, 2017

Ngomongin Hubungan

Sial, akhir-akhir ini gw suka ngerasa slek sama orang, dan saat kesel gini gw pengen mengucapkan sumpah serapah sejadi-jadinya, di blog. Iya, pengecut. Anyway, kata pepatah kalau banyak orang yang bermasalah sama kita, tandanya ada yang salah dengan diri kita sendiri, gw setuju. Ada yang bermasalah dengan diri gw, hubungan gw dengan diri gw sendiri bermasalah, kata orang gw termasuk yang rendah sekali tingkat kecerdasan interpersonal dan intrapersonalnya, sehingga gw jadi gak easy going sama orang lain.

Berawal dari rundingan mau kondangan ke sunbae yang kemaren udah gw ceritakan, sejak tau gw gak bisa berangkat sama siapa-siapa, gw udah memutuskan nitip aja tapi gak inisiatif mengumpulkan titipan. Hingga semalam ada temen gw yang melakukannya dan saat itu gw sedang dalam kondisi udah gak niat lagi mau dateng. Bla, bla, bla terjadinya gw menulis “jangan di paksain…” lalu ditanggapi siapa yang maksa? Berantem juga nih gw? Lah.

Tanpa melihat sudut pandang yang lain, karena nampaknya gw juga tidak dipikirkan dan gak sempet banyak menjelaskan karena pasti gak ada excuse, gak ada ampun. Jadi gw jelasin aja disini, gw gak sadar kalau kata “maksa” adalah kata yang sensitive, padahal maksud gw cuma biarkan kalau ada yang mau pergi dengan caranya, as simpe as that. But humans are complex ya? you said.

So, terimakasih karena sudah jadi yang berjasa melakukan hal-hal baik, I appreciate that. Gak akan gw komentari caranya, gak akan gw kritik. However, gw kan gak solutif, eh supportif. You’re all perfect girls.

Tuesday, October 24, 2017

Wedding Invitation

Hari ini begini, besok mungkin berbeda.

Aku sadar jika aku belum juga dewasa hingga umurku yang sekarang, sehingga opiniku tentang berbagai macam kisah dan masalah adalah opini yang berangkat dari pengalaman pribadi yang belum matang dan bisa berubah kapan saja. Termasuk apa-apa yang mau aku ceritakan ini.

Alhamdulillah akhirnya aku menemukan grub SMA-ku lagi, awalanya memang aku ingin selesai dengan kehidupan SMA dan menghilang melupakan semua kenangan. Seiring berjalannya waktu, aku mulai kangen dan menghubungi teman-temanku, sampai akhirnya bisa buka bersama pada tahun ini dan menjalin silaturahmi lewat whatsapp. 

Teman-teman SMA-ku sudah ada yang menikah, ada yang aku tahu dan pernah hadir, tapi banyak yang tidak tau jadi tidak hadir. Dengan adanya grub WA, semua kabar sedih dan gembira kini aku ketahui. Hingga pada suatu hari saat aku ngobrol dengan temanku Yulinda, dia bercerita bahwa teman kami anu sudah menikah kemarin tapi kita tidak diundang, bagi Yulinda, hal ini kurang pas karena mereka adalah tetangga. Lalu ramailah grub whatsapp, beberapa ada yang komplain karena tidak dikabari, tidak diundang.

Sebelumnya aku tidak begitu perduli dengan hal-hal seperti undangan, tata krama mengundang teman dan lain sebagainya. Sampai pada hari ramai grub whatsapp itu, aku baru paham bahwa akan sangat baik jika ada apa-apa mengabari, karena kita teman. Tapi tetap saja, perasaanku masih biasa, baru sampai pada oooh gitu ya.

Aku memang sudah beberapa kali diundang pesta nikah teman-temanku, dan baru kusadari kalau menghadiri undangan adalah suatu bentuk penghormatan kepada yang punya hajat, dan ternyata hukum menghadiri undangan nikah jika undangannya undangan personal itu wajib, nah. Mulai tau itu, aku jadi rajin hadir kondangan jika diundang. 

Lalu kemarin aku dapat satu pelajaran lagi soal undangan, menjawab keheranan pada kecewanya Yulinda karena tidak dikabari nikah teman yang juga adalah tetangganya. Mungkin rasanya begini. Jadi, temanku satu organisasi akan menikah dan aku merasa kami cukup dekat sehingga merasa cukup layak diundang secara personal. Tapi bukan seperti itu yang terjadi, aku diundang melalui grub. Nah, baru tau aku rasa yulinda kala itu, rasanya seperti sadar bahwa “kita gak sedekat itu ya ternyata”.

Tapi, pasti semua hal tentang undang mengundang ini ada sudut pandang lain yang harus kita hormati juga. Dan dari semua rasa undangan ini, aku belajar jika sampai hariku diundang lagi atau mengundang kapan-kapan, aku harus memperhatikan perasaan orang lain, tanpa mengesampingkan kemampuan diri sendiri.

Monday, October 23, 2017

Review Korean Series “The Doctor” (2016)

Dari 1-10, drama ini kunilai 9,8. Bagus banget.

Alasannya? Pertama, aku selalu suka dengan film atau drama yang mengangkat tema tentang kehidupan rumah sakit atau scientific research, itulah mengapa aku suka film The Amazing Spiderman, Holmes, dan lain lain. Anyway, udah lama banget gak nonton Sherlock Holmes, sungguh rindu ini begitu dalam mas Sherlock.

Kembali ke review The Doctor, alasan kedua adalah drama ini menyajikan hubungan antar manusia yang begitu damai dan manis. Bahkan konflik yang aku kira akan menyedihkan dan membuat jengkel dikemas dalam adegan yang kesel-kesel tapi kasihan. Pemain fovorit ku adalah Hong ji Hong, sudah pasti ya. 

Karakter pak Hong di film ini keren sekali, sungguh aku ingin meneladaninya. Tak hanya pak Hong, hampir semua karakter di drama ini kece. Mereka menampilkan aksi dan reaksi yang gak picisan, cerdas, aku kagum dengan kecerdasan penulis naskah atau siapapun yang mendapat ide dialog yang sungguh aduhai.

Adegan paling aku suka? Hmmm, semua suka. Pada espisode-episode awal saat pak Hong masih jadi guru dan dipaksa jadi wali kelas Hye Jung terus memperkenalkan Hye Jung di depan kelas itu, itu paling keren. Pas dia kesel banget terus nepuk keras dadanya nahan kesel. Ajaib.

Dan drama ini kusuka karena bersih, aku suka latar film atau drama yang bersih. Gak kudu mewah, hanya bersih saja. Sehingga aku tonton sambil makanpun tak apa. Secara keseluruhan, drama ini juaraaa.

Memetik Hikmah dari Kepo

Aku tidak ingat apakah pernah cerita soal ini atau belum, tapi aku ingin mengulas sedikit saja agar dapat menjadi hikmah supaya tidak terjadi di kemudian hari.

Berawal dari perkenalanku dengan teman-teman di sebuah organisasi kalau boleh kusebut begitu. Singkat cerita, aku menemukan fakta unik dari beberapa teman yang rupanya sangat rumit dan tak bisa aku selesaikan hingga sekian lama sampai aku menemukan sebuah nasihat saat aku kepoin account facebook salah satu orang-orang ini. Begini isi nasihatnya:

“Karena setiap hati milik kita Allah yang menggerakkannya. Tidak peduli seberapa hebat seseorang jikalau hati kita tidak menginginkannya, tidak Allah berikan rasa sayang padanya, tidak akan ada perasaan apapun. Karena hati kita telah digerakkan olehNya pada seseorang, seseorang yang Allah tetapkan”.

Sungguh bijak, sungguh suatu jawaban dari apa yang aku pertanyakan selama ini. 

Kembali pada ceritaku tadi, waktu itu aku mendapat undangan yang begitu dadakan kayak tahu bulat. Si Fulan (1) akan menikahi Fulanah (1), wah kaget sekali aku. Tak hanya aku, tapi semua khalayak yang tau kaget bukan main. Karena yang kami tanyakan dalam benak kemudian adalah… “Bukannya Fulanah (1) sukanya sama Fulan (2) yang notabene adalah sahabat si Fulan (1)?” Nahlooo.

Sungguh itu tidak sesederhana yang aku tulis ya. 

Pasti sudah ada yang terjadi sebelumnya, sehingga tak hanya aku tapi beberapa orang dekat juga menanyakan hal yang sama. Waktu berlalu pernikahan berjalan semua kembali seperti biasa. 

Baru baru ini aku dapat kabar balasan yang tidak mengagetkan, hanya kemudian mendapat jawaban. Fulan (2) yang dikira disukai Fulanah (1) dulu menikah dengan Fulanah (2)  lain. Pantas saja beberapa hari sebelum aku dapat undangan, aku membaca status galau Fulanah (1) yang nampak sedang galau terhadap pernikahannya sendiri. Mengadukan galaunya pada orang lain, lalu di posting hasil nasehat yang didapat.

Beberapa hari sebelum Fulan (1) dan Fulanah (1) menikah, aku dan beberapa teman berasumsi begini kira-kira:

Semua ini salah  si Fulan (2), sungguh dia tidak rasional. Fulanah (1) yang terlihat suka padanya itu justru jauuuh lebih baik dari Fulanah lain yang ia dekati, lebih hebat. Ini akan menjadi hukuman baginya ketika menyia-nyiakan wanita baik sehingga menikah dengan temannya sendiri. Jahat ya? Tapi ini opini umum.

Saat itu aku sungguh setuju dengan pernyataan ini, Fulanah (1) adalah orang baik yang lebih layak bersanding dengannya. tapi inilah takdir, inilah kehendak-Nya. Dan nasihat di atas, adalah jawaban bagi pertanyaan kami semua selama ini. Bahwa hati Fulan (2) dan hati semua makhluk itu Allah yang menggerakkan, sehebat apapun Fulanah (1) atau sehebat apapun mereka, kalau Allah tidak gerakkan hati Fulan (2) untuk menyukainya, tidak akan ada rasa apapun, apalagi rasa suka, sayang, cinta. Tidak akan ada.

Tidak perlu ada yang disayangkan, sungguh yang terjadi sekarang jauh lebih “perfect” dari perkiraan “perfect” semua umat. Beginilah hidup mengajari kita soal cinta, semoga ada hikmahnya.

Biarkan Kita Lupa Saja

Ini tidak akan pernah terpikir jika temanku Fulan tidak mengawali obrolan tentang “Aku sedih teman-temanku berselisih”, aku tak penasaran karena slek antar manusia adalah hal yang sangat wajar hari-hari ini. Apalagi soal skripsi, nanti juga baikan lagi.

Aku heran karena salah satu teman yang dia maksud adalah aku, loh? Aku tidak yakin sedang berselisih dengan siapapun. Rasanya hidupku aman-aman saja sekarang. Lalu dia cerita ini dan itu bahwa aku katanya begini, apa benar. Ya ampun, aku gak sadar ternyata ada orang yang merasa aku musuhi, ada orang yang ngira aku melakukan hal tak baik padanya karena aku niat melakukannya.

Aku akui, kelemahanku adalah tidak menyadari bahwa beberapa tindakan yang aku lakukan ternyata membuat orang lain tidak suka. Yah, kadang ya ada, tapi banyak yang tidak. Dan kali ini aku ditegur langsung. 

Mau tau masalahnya apa? Sampai sekarang aku juga kurang paham. Katanya begini, kenapa aku tidak inisiatif mengambil tanggung jawab membeli kado untuk teman yang hari itu kompre, sementara orang yang merasa aku musuhi inilah yang akhirnya mengajukan diri membeli dan mengantar kado padahal sedang sibuk mengajar sehingga waktunya begitu berharga, waktuku tidak. Lah.

Kenapa aku tidak sadar hal ini adalah kesalahanku ya? Hmmm.

Hari kompre itu adalah hari aku mau ke Ajanrem 043/Garuda Hitam untuk mendaftar Pa PK. Anyway, aku udah gak kos, artinya selalu PP dan capek. Hari itu memang ingin membagi waktu antara support teman kompre sekalian mengantar berkas lamaran. Tak lagi ada jadwal nambah-nambah bantu lainnya.

Kemudian tambahnya, dia merasa aku tak suka padanya karena unfollow instagram. Aku gak tau, ternyata hal seperti ini menjadi pemicu dia banyak suudzon padaku. Kata Fulan memang unfollow instagaram itu tindakan yang tidak sopan, aku baru tau juga. Aku tak ingat, tapi mungkin memang pernah ada sesuatu yang tidak aku suka darinya dan tidak aku ceritakan pada siapa-siapa, pokoknya aku unfollow saja media sosialnya.

Aku mengira dengan begitu akan lebih baik dan lebih gampang membuatku lupa, dari pada aku terus bertemu bahkan di sosial media dan kesal sendiri. Aku ingin hidup tenang tak mau marahan, aku tidak sanggup menghadapi perselisihan karena pasti aku yang paling banyak ngototnya, jadi aku pergi sendiri. Aku diam sendiri. Biarkan waktu melupakan itu. Hingga saatnya baru kutau, ada yang sadar dan mengira macam-macam, semenrtara harapanku terkabul, aku lupa dulu apa masalahnya. Lah.

Beberapa orang memang menghindari perselisihan dengan membagi jarak, seperti juga yang aku rasakan atas tindakan dua temanku yang dulu kukira begitu dekat. Pasti ada salahku yang mereka simpan, tapi tidak tau mau mulai dari mana untuk islah, malah mungkin mereka tidak merasa ada apa-apa, hanya memang aku terlalu GR pada awalnya.

Sudahlaaah, biar kita semua sama-sama lupa. Biarkan waktu meredakannya.

Sunday, October 22, 2017

Jangan Dzolim Ibu-ibu!

Hari minggu adalah hari yang menyenangkan, dimulai dengan bangun pagi dan beres-beres lalu mengantar Ibu ke pasar. Semakin besar badanku, kini aku sudah berani pasar sendirian, sambil membawa catatan dan uang belanja aku membeli satu persatu daftar belanja Ibu.

Hari minggu ini juga seperti itu, meski aku datang pagi, namun suasana pasar nampak sepi. Nangka, ayam, cabai, bawang kating, aseman, jagung manis, lalu ke penjual ikan. Disinilah aku menemukan sebuah pelajaran hidup yang patut kita teladani bersama.

Ibu termasuk langganan abang penjual ikan, karena semua jenis ikan yang dijual kami rasa masih segar dan enak rasanya, bukan kata abangnya, ini berasal dari pengalaman yang lalu. Pesanan ibu adalah ikan cucut atau tongkol besar dan udang. Ada beberapa pembeli yang sedang tawar menawar, saat itu giliran 2 ibu-ibu berseragam olahraga yang kuduga habis senam nampak sedang kesal karena penawarannya gak diterima. Dia ngotot minta tambahin satu ekor lagi, abangnya bilang:

“Itu udah pas Ibu, saya cuma untung 5000. Kalau Ibu gak mau, ya balikin saja”
“Ya itu satu lagi lah nyelip itu ” (sambil ngotot minta tambahin seekor lagi). Duh.
“Yaudah-yaudah, semoga pelaris ya bu”

Tak sampai disitu, satu temannya lagi minta hal yang sama. Minta tambahin lalu minta kurangin harga jenis ikan lain yang dibeli, kata-katanya kasar dan memburu.

Astaghfirullah… aku suka gak habis pikir dengan yang seperti ini. Sungguh, dari sudut pandangku hal tersebut tidak benar baik secara agama, norma, etika, sosial masyarakat dan lain-lain. Itu jahat Ibu-ibu. Mungkin bagi ibu yang sebetulnya nampak seperti orang berpunya, ikan seekor ini tak ada artinya, gak masalah kalau ditambah buat ibu. Lalu harga ikan yang mestinya 15.000 jadi dimurahin lagi itu gak masalah lah 1000/2000. Laaah…

Bu, kalau mau nawar ke supermarket sana lho. Kok tega sekali sih nawar gak karuan (sambil marah-marah) ke penjual kecil. Sakit hati kami yang menyaksikan, sudah dikabulkan masih mengomel. Belanjalah yang sopan sepeti ibu sedang belanja di supermarket, jangan kagok di supermarket lalu menzolimi pedagang kecil disini.

Buat temen-temenku yang belum jadi Ibu-ibu, bercita-citalah menjadi ibu-ibu yang memiliki akhlak terpuji, demi Allah makanan sedikit namun baik cara dapatnya sungguh lebih berkah nilainya di mata Allah. Makanya, dari sekarang hiduplah dengan baik, jangan “besar pasak dari pada tiang”. Semoga Allah senantiasa memberi kesabaran para pedagang kecil dan memberkahinya dengan banyak rezeki yang tidak disangka-sangka. Ayo mulai hargai kehidupan orang lain. 

Taubat ya bu, jangan dzolim lagi. 

Dunia Lain

Malam ini aku bermimpi mengantar kue untuk Om Nazar di Pringsewu, dengan perintah yang tidak begitu jelas aku meminta tolong pada omku yang tidak betul-betul aku kenali siapa untuk mengantar ke rumah Om Nazar. Pesannya yang kutangkap adalah “letakkan di kulkas supaya awet, atau makan langsung habiskan”.

Berangkatlah aku ke rumah Om Nazar, aku seperti sudah tau lokasinya karena sering ikut Ibu berkunjung ke rumah saudara-saudara di Pringsewu. Rumah yang aku tuju ini begitu pringombo, tanah berpasir dengan bau suasana yang khas. Dalam benakku, Om Nazar adalah anak mbah siapa yang pasti tidak kotor. Sesampainya aku di rumah tujuan, aku bertemu dengan beliau yang sedang dandan motor di  bengkel pinggir jalan yang hitam dan berdebu. Setelah ku pastikan itu Om Nazar, aku berikan kotak kue dan menyampaikan intruksi “letakkan di kulkas supaya awet, atau makan langsung habiskan”.

Om nazar berterima kasih, beliau bilang uangnya di ..... (aku tak ingat namanya) yang di benakku adalah sebuah rumah di sidototo. Aku tersenyum dan izin pamit pada om nazar dan dilepas dengan senyum yang riang, tapi aneh.

Apakah aku pulang mengambil uang?

Sepertinya tidak karena setelahnya lain cerita.

Saat aku terbangun, aku bertanya-tanya siapa Om Nazar? Aku tidak pernah kenal. Kepalanya gundul dan matanya sipit, dia mirip babah tembong yang punya toko snack dan sembako di pasar Gadingrejo. Kenapa aku bermimpi Pringsewu? Mimpi di rumah embah? Mimpi mengantar kue? Mimpi yang misterius.

Saturday, October 21, 2017

Pengalaman Mendaftar Pa PK TNI 2017

Aneh banget, dengan alasan gak dapet-dapet kerja yang layak, aku memutuskan untuk mendaftar menjadi Perwira Prajurit Karir TNI pada 2017. Begitu dadakan, begitu nekat. Menyiapkan semua berkas tanpa mikir, paham tapi tidak sambil dipikir.

Sempat kesulitan mendaftar online karena log-in dengan kode yang dicopy-paste, ternyata bukan begitu cara kerjanya, kudu diketik manual. Setalah berhasil, malam harinya aku menyiapkan semua berkas yang sudah ada, dan ternyata banyak yang sudah ada. Lalu keesokan paginya aku berangkat sendiri membuat SKCK dan legalisir berkas di CAPIL. Buatku, ini hebat. Berani dan gampang.

Setelah aku yakin semua berkas sudah beres, akupun berangkat ke Korem 043/Garuda Hitam yang lokasinya dekat denga rumah sakit umum abdul moelok, bertanya pada satpam jaga dan diarahkan ke belakang sana. Disana sedang berlangsung tes CPNS, dikira mau tes juga. Disana ketemu pak tentara seragam ijo, aku bertanya dan diarahkan untuk ke ajanrem. Salah tempat. Waaaaa.

Sebelum aku cus ke ajanrem, aku bertemu dengan ibu-ibu tentara. Beliau baik dan mengarahkan aku ke ajanrem. lewat RS. Urip itu dek, ke by pass depan RS Immanuel pas.

Karena aku gak tau apa itu ajanrem, aku cari di google map, eh gak ada. Tapi katanya tadi depan RS. Imanuel, aku googling cari lokasi Immanuel, aku bingung, padalah sudah diberi petunjuk pak ujang (babinsa di desakaku) tapi aku gak nyambung, ya sepeti tadi kubilang, aku cuma tau tapi gak aku pikirin.
Berangkatlah aku ke Ajanrem, oh ternyata deket kantor NET Lampung, dan lebih deket dari Unila kalo lewat bypass. Yaelah…tadi udah lewat MBK, macet-macetan. Makanya percaya, jangan meremehkan petunjuk orang, apalagi tentara.

Sampai disana diterima baik oleh petugas, tapi aku tidak langsung jujur mengenalkan identitasku, hanya bilang “biologi” saja. Setelah mengisi data pendaftaran, form, masang foto. Baru dicek berkasku.

“Berapa IPK?” Aku jawab PD sekali, IPK ku besar.
“Akreditasi program studi?” B, jawabku.

Dan lain-lain yang jawabannya membanggakan. Petugas lalu mengecek ijazah S1-ku, dia berkernyit. 

“Iya pak, itu SKL… saya baru akan wisuda November nanti”
“Yakin ijazahnya keluar?" Ya… kan dibagi nanti pas wisuda”
 “Saya tanya, yakin ijazahnya keluar?” Iya pak yakin”

Sampai sini aku masih PD. Namun tiba-tiba beliau cek transkrip dan baru sadar kalau aku pendidikan biologi, bukan biologi. Waaa. Lalu beliau menyampaikan bahwa aku gak bisa lanjut karena tidak memenuhi kualifikasi. Aku meringis sedih. Berterima kasih dan mengambil motor bebekku sambil malu berpamitan. 

Aku pulang lewat jalan bypass, di perjalanan aku tidak menangis hanya malu dan merasa kelu. Aku mah cuma pengen dapet kerja, sepekerjaan sama pangliima besar yang alim. Tapi kan bukan takdirnya. 

Untung aku cuma tau, gak pakai mikir dan rasa.