Monday, October 23, 2017

Biarkan Kita Lupa Saja

Ini tidak akan pernah terpikir jika temanku Fulan tidak mengawali obrolan tentang “Aku sedih teman-temanku berselisih”, aku tak penasaran karena slek antar manusia adalah hal yang sangat wajar hari-hari ini. Apalagi soal skripsi, nanti juga baikan lagi.

Aku heran karena salah satu teman yang dia maksud adalah aku, loh? Aku tidak yakin sedang berselisih dengan siapapun. Rasanya hidupku aman-aman saja sekarang. Lalu dia cerita ini dan itu bahwa aku katanya begini, apa benar. Ya ampun, aku gak sadar ternyata ada orang yang merasa aku musuhi, ada orang yang ngira aku melakukan hal tak baik padanya karena aku niat melakukannya.

Aku akui, kelemahanku adalah tidak menyadari bahwa beberapa tindakan yang aku lakukan ternyata membuat orang lain tidak suka. Yah, kadang ya ada, tapi banyak yang tidak. Dan kali ini aku ditegur langsung. 

Mau tau masalahnya apa? Sampai sekarang aku juga kurang paham. Katanya begini, kenapa aku tidak inisiatif mengambil tanggung jawab membeli kado untuk teman yang hari itu kompre, sementara orang yang merasa aku musuhi inilah yang akhirnya mengajukan diri membeli dan mengantar kado padahal sedang sibuk mengajar sehingga waktunya begitu berharga, waktuku tidak. Lah.

Kenapa aku tidak sadar hal ini adalah kesalahanku ya? Hmmm.

Hari kompre itu adalah hari aku mau ke Ajanrem 043/Garuda Hitam untuk mendaftar Pa PK. Anyway, aku udah gak kos, artinya selalu PP dan capek. Hari itu memang ingin membagi waktu antara support teman kompre sekalian mengantar berkas lamaran. Tak lagi ada jadwal nambah-nambah bantu lainnya.

Kemudian tambahnya, dia merasa aku tak suka padanya karena unfollow instagram. Aku gak tau, ternyata hal seperti ini menjadi pemicu dia banyak suudzon padaku. Kata Fulan memang unfollow instagaram itu tindakan yang tidak sopan, aku baru tau juga. Aku tak ingat, tapi mungkin memang pernah ada sesuatu yang tidak aku suka darinya dan tidak aku ceritakan pada siapa-siapa, pokoknya aku unfollow saja media sosialnya.

Aku mengira dengan begitu akan lebih baik dan lebih gampang membuatku lupa, dari pada aku terus bertemu bahkan di sosial media dan kesal sendiri. Aku ingin hidup tenang tak mau marahan, aku tidak sanggup menghadapi perselisihan karena pasti aku yang paling banyak ngototnya, jadi aku pergi sendiri. Aku diam sendiri. Biarkan waktu melupakan itu. Hingga saatnya baru kutau, ada yang sadar dan mengira macam-macam, semenrtara harapanku terkabul, aku lupa dulu apa masalahnya. Lah.

Beberapa orang memang menghindari perselisihan dengan membagi jarak, seperti juga yang aku rasakan atas tindakan dua temanku yang dulu kukira begitu dekat. Pasti ada salahku yang mereka simpan, tapi tidak tau mau mulai dari mana untuk islah, malah mungkin mereka tidak merasa ada apa-apa, hanya memang aku terlalu GR pada awalnya.

Sudahlaaah, biar kita semua sama-sama lupa. Biarkan waktu meredakannya.

No comments: