Ini tidak akan pernah terpikir jika
temanku Fulan tidak mengawali obrolan tentang “Aku sedih teman-temanku
berselisih”, aku tak penasaran karena slek antar manusia adalah hal yang sangat
wajar hari-hari ini. Apalagi soal skripsi, nanti juga baikan lagi.
Aku heran karena salah satu teman
yang dia maksud adalah aku, loh? Aku tidak yakin sedang berselisih dengan
siapapun. Rasanya hidupku aman-aman saja sekarang. Lalu dia cerita ini dan itu
bahwa aku katanya begini, apa benar. Ya ampun, aku gak sadar ternyata ada orang
yang merasa aku musuhi, ada orang yang ngira aku melakukan hal tak baik padanya karena
aku niat melakukannya.
Aku akui, kelemahanku adalah tidak
menyadari bahwa beberapa tindakan yang aku lakukan ternyata membuat orang lain
tidak suka. Yah, kadang ya ada, tapi banyak yang tidak. Dan kali
ini aku ditegur langsung.
Mau tau masalahnya apa? Sampai
sekarang aku juga kurang paham. Katanya begini, kenapa aku tidak inisiatif
mengambil tanggung jawab membeli kado untuk teman yang hari itu kompre,
sementara orang yang merasa aku musuhi inilah yang akhirnya mengajukan diri
membeli dan mengantar kado padahal sedang sibuk mengajar sehingga waktunya
begitu berharga, waktuku tidak. Lah.
Kenapa aku tidak sadar hal ini
adalah kesalahanku ya? Hmmm.
Hari
kompre itu adalah hari aku mau ke Ajanrem 043/Garuda Hitam untuk
mendaftar Pa PK. Anyway, aku udah gak kos, artinya selalu PP dan capek. Hari itu memang ingin
membagi waktu antara support teman kompre sekalian mengantar berkas
lamaran. Tak lagi ada jadwal nambah-nambah bantu lainnya.
Kemudian
tambahnya, dia merasa aku
tak suka padanya karena unfollow instagram. Aku gak tau, ternyata hal
seperti ini menjadi pemicu dia banyak suudzon padaku. Kata Fulan memang
unfollow instagaram itu tindakan yang tidak sopan, aku baru tau juga.
Aku tak ingat, tapi mungkin memang pernah ada sesuatu yang tidak aku
suka darinya dan tidak aku
ceritakan pada siapa-siapa, pokoknya aku unfollow saja media sosialnya.
Aku mengira dengan begitu akan lebih baik dan lebih gampang membuatku lupa, dari pada aku terus bertemu bahkan di sosial media dan kesal sendiri. Aku ingin hidup tenang tak mau marahan, aku tidak sanggup menghadapi perselisihan karena pasti aku yang paling banyak ngototnya, jadi aku pergi sendiri. Aku diam sendiri. Biarkan waktu melupakan itu. Hingga saatnya baru kutau, ada yang sadar dan mengira macam-macam, semenrtara harapanku terkabul, aku lupa dulu apa masalahnya. Lah.
Beberapa orang memang menghindari perselisihan dengan membagi jarak, seperti juga yang aku rasakan atas tindakan dua temanku yang dulu kukira begitu dekat. Pasti ada salahku yang mereka simpan, tapi tidak tau mau mulai dari mana untuk islah, malah mungkin mereka tidak merasa ada apa-apa, hanya memang aku terlalu GR pada awalnya.
Aku mengira dengan begitu akan lebih baik dan lebih gampang membuatku lupa, dari pada aku terus bertemu bahkan di sosial media dan kesal sendiri. Aku ingin hidup tenang tak mau marahan, aku tidak sanggup menghadapi perselisihan karena pasti aku yang paling banyak ngototnya, jadi aku pergi sendiri. Aku diam sendiri. Biarkan waktu melupakan itu. Hingga saatnya baru kutau, ada yang sadar dan mengira macam-macam, semenrtara harapanku terkabul, aku lupa dulu apa masalahnya. Lah.
Beberapa orang memang menghindari perselisihan dengan membagi jarak, seperti juga yang aku rasakan atas tindakan dua temanku yang dulu kukira begitu dekat. Pasti ada salahku yang mereka simpan, tapi tidak tau mau mulai dari mana untuk islah, malah mungkin mereka tidak merasa ada apa-apa, hanya memang aku terlalu GR pada awalnya.
Sudahlaaah, biar kita semua
sama-sama lupa. Biarkan waktu meredakannya.
No comments:
Post a Comment