Aku sudah tamatkan hidupku bagian yang "suka
mengira-ngira". Tak mau lagi aku mengira ini dan itu, apalagi soal diriku
sendiri. Akhir-akhir ini baru kusadari
betul bahwa perkiraanku terhadap diriku sendiri nyatanya meleset. Hampir semua.
Bayangkannn
(penekanan kuat pada kata ini), pada diriku sendiri saja meleset? Dan baru kusadari setelah hampir
habis usia 23 tahunku. Miris aku membayangkan selama ini hidup dalam perkiraan
yang salah terhadap diri sendiri.
Kukira, aku mahal.
Sungguh. Kukira aku adalah perempuan
ajaib yang terlahir penuh dengan kemegahan dan kecerdasan yang tak banyak orang
punya. Aku mengira bahwa aku adalah si kreatif yang sekaligus sistematis dan
dermawan, pokoknya ku kira diriku ini hebatlah, mahal.
Nyatanya… tidak.
Pantas aku sering merasa ada yang
tidak beres pada persepsiku ini selama hidup bertahun-tahun lamanya. I'am not
the special one. Aku mah biasa. Malah terlampau biasa, ternyata.
Tabiatku yang tempramen, yang
pendengki lagi pendendam, aku yang overacting, dan palsu. Aku mengira hebat
dalam balutan kemurahan ini.
Belum ada air mata, belum sampai
pada titiknya. Namun aku sudah kesal bukan main, aku kecewa dan malu, lebih
banyak kecewa yang disertai marah, dan seperti lagu lamaku, marah ini tak hanya pada
diri sendiri, tak hanya karena salah mengira, aku ikut-ikutan marah pada yang
lain, yang membuatku semakin marahan dan murahan.
Lalu, sampai aku pada keputusan dan
keputusasaan.
Aku tidak mau punya "pengen apa-apa". Akan
kujalani hidup begitu saja. Aku tidak akan lagi memaksa cerita.
Hahahahaha.
No comments:
Post a Comment