Hari ini listrik padam dari siang
sampai menjelang magrib, sehingga aku terkantuk-kantuk ketika membaca buku “Menjelajah
Alam Roh” karena langit di teras rumah mulai gelap. Lalu aku melipir ke kamar
untuk membaringkan badan, nguap-nguap mencoba tidur tapi tidak sampai pulas,
sehingga perutku kembung saat dipaksa bangun.
Sekarang ini aku memang sedang tidak
punya kegiatan yang menguras tenaga dan pikiran, semua kegiatan yang kujalani
sangat santai dan penuh hiburan. Menanam sayuran, membuat pupuk, memasak nasi goreng,
mengerjakan soal matika SMP, nonton film, hmmm. Karena tidak terbiasa dengan
suasana yang seperti ini, aku jadi suka merasa bersalah, senang memang tapi
pasti ada sesuatu yang lebih seru untuk diselesaikan.
Anyway, setelah aku perhatikan pundak
ini memang agak membungkuk kedepan, mungkin karena kebiasaan yang salah ketika
duduk atau berjalan. Nah, mungkin ini salah satu perbaikan yang akan aku
lakukan mulai sekarang, membetulkan posisi pundak. Posisi stand up princess.
Oya, Aku punya cerita duka temanku
kemarin. Tragedi kecelakaan maut yang menimpa calonnya sehingga kini mereka
tidak lagi berada di alam yang sama. Cerita ini sungguh tragis, sedih, dan
dekat. Bagaimana mungkin, malam itu di grub kampung Purworejo heboh dengan
adanya kecelakaan di jalan depan Kompi Gedong Tataan, sempat aku lihat foto
korban dengan posisi tengkurep dan innalillahiwainnailaihirajiuun itu tersebar.
Saat itu aku hanya mengira-ngira siapa mungkin orang jauh, namun paginya kaget
karena ia adalah calon temanku yang sama-sama tinggal di pesawaran. Ya Allah.
Kemudian siangnya aku bersama
beberapa teman bertakziah dan mendengar langsung bagaimana kronologi kecelakaan
serta kisah yang mengiringinya. Hatiku nyeri. Temanku masih tak percaya dengan
apa yang terjadi barusan, barusan semalam. Wah. Aku terus menyimak sambil
berkali kali istighfar. Maut… maut… kita tidak pernah tau kapan datang. Sebelumnya
aku juga pernah bertakziah ke beberapa teman sepantaran atau adik tingkat. Ternyata
meninggal mah bisa pas muda ya, bisa kapan saja.
Aku tak berlama-lama disana, sebelum
pulang kami mampir ke pusara beliau untuk berziarah kubur. Ternyata berziarah seperti
itu akan lebih terasa nyatanya kalau memang kita bakal wafat suatu hari nanti. Sudah
lama aku tak begini. Saat melihat kuburan, saat melihat bebungaan, terbayang
bagaimana nanti kita akan sendirian. Menghadapi pertanyaan malaikat, mempertanggung
jawabkan amalan di dunia ini, mempertanggungjawabakan kelakuan yang pernah
kurang ajar. Ya Allah… semoga aku khusnul khotimah, semoga kita semua khusnul
khotimah.
No comments:
Post a Comment