Hari ini begini, besok mungkin
berbeda.
Aku sadar jika aku belum juga dewasa hingga
umurku yang sekarang, sehingga opiniku tentang berbagai macam kisah dan masalah adalah opini
yang berangkat dari pengalaman pribadi yang belum matang dan bisa berubah kapan
saja. Termasuk apa-apa yang mau aku ceritakan ini.
Alhamdulillah akhirnya aku menemukan
grub SMA-ku lagi, awalanya memang aku ingin selesai dengan kehidupan SMA dan
menghilang melupakan semua kenangan. Seiring berjalannya waktu, aku mulai
kangen dan menghubungi teman-temanku, sampai akhirnya bisa buka bersama pada
tahun ini dan menjalin silaturahmi lewat whatsapp.
Teman-teman SMA-ku sudah ada yang
menikah, ada yang aku tahu dan pernah hadir, tapi banyak yang tidak tau jadi
tidak hadir. Dengan adanya grub WA, semua kabar sedih dan gembira kini aku
ketahui. Hingga pada suatu hari saat aku ngobrol dengan temanku Yulinda, dia
bercerita bahwa teman kami anu sudah menikah kemarin tapi kita tidak diundang, bagi
Yulinda, hal ini kurang pas karena mereka adalah tetangga. Lalu ramailah grub
whatsapp, beberapa ada yang komplain karena tidak dikabari, tidak diundang.
Sebelumnya aku tidak begitu perduli
dengan hal-hal seperti undangan, tata krama mengundang teman dan lain
sebagainya. Sampai pada hari ramai grub whatsapp itu, aku baru paham bahwa akan
sangat baik jika ada apa-apa mengabari, karena kita teman. Tapi tetap saja,
perasaanku masih biasa, baru sampai pada oooh gitu ya.
Aku memang sudah beberapa kali diundang
pesta nikah teman-temanku, dan baru kusadari kalau menghadiri undangan adalah
suatu bentuk penghormatan kepada yang punya hajat, dan ternyata hukum
menghadiri undangan nikah jika undangannya undangan personal itu wajib, nah. Mulai
tau itu, aku jadi rajin hadir kondangan jika diundang.
Lalu kemarin aku dapat satu
pelajaran lagi soal undangan, menjawab keheranan pada kecewanya Yulinda karena tidak dikabari
nikah teman yang juga adalah tetangganya. Mungkin rasanya begini. Jadi, temanku
satu organisasi akan menikah dan aku merasa kami cukup dekat sehingga merasa
cukup layak diundang secara personal. Tapi bukan seperti itu yang terjadi, aku
diundang melalui grub. Nah, baru tau aku rasa yulinda kala itu, rasanya seperti
sadar bahwa “kita gak sedekat itu ya ternyata”.
Tapi, pasti semua hal tentang undang
mengundang ini ada sudut pandang lain yang harus kita hormati juga. Dan dari semua
rasa undangan ini, aku belajar jika sampai hariku diundang lagi atau mengundang
kapan-kapan, aku harus memperhatikan perasaan orang lain, tanpa mengesampingkan
kemampuan diri sendiri.
No comments:
Post a Comment