Tuesday, October 24, 2017

Wedding Invitation

Hari ini begini, besok mungkin berbeda.

Aku sadar jika aku belum juga dewasa hingga umurku yang sekarang, sehingga opiniku tentang berbagai macam kisah dan masalah adalah opini yang berangkat dari pengalaman pribadi yang belum matang dan bisa berubah kapan saja. Termasuk apa-apa yang mau aku ceritakan ini.

Alhamdulillah akhirnya aku menemukan grub SMA-ku lagi, awalanya memang aku ingin selesai dengan kehidupan SMA dan menghilang melupakan semua kenangan. Seiring berjalannya waktu, aku mulai kangen dan menghubungi teman-temanku, sampai akhirnya bisa buka bersama pada tahun ini dan menjalin silaturahmi lewat whatsapp. 

Teman-teman SMA-ku sudah ada yang menikah, ada yang aku tahu dan pernah hadir, tapi banyak yang tidak tau jadi tidak hadir. Dengan adanya grub WA, semua kabar sedih dan gembira kini aku ketahui. Hingga pada suatu hari saat aku ngobrol dengan temanku Yulinda, dia bercerita bahwa teman kami anu sudah menikah kemarin tapi kita tidak diundang, bagi Yulinda, hal ini kurang pas karena mereka adalah tetangga. Lalu ramailah grub whatsapp, beberapa ada yang komplain karena tidak dikabari, tidak diundang.

Sebelumnya aku tidak begitu perduli dengan hal-hal seperti undangan, tata krama mengundang teman dan lain sebagainya. Sampai pada hari ramai grub whatsapp itu, aku baru paham bahwa akan sangat baik jika ada apa-apa mengabari, karena kita teman. Tapi tetap saja, perasaanku masih biasa, baru sampai pada oooh gitu ya.

Aku memang sudah beberapa kali diundang pesta nikah teman-temanku, dan baru kusadari kalau menghadiri undangan adalah suatu bentuk penghormatan kepada yang punya hajat, dan ternyata hukum menghadiri undangan nikah jika undangannya undangan personal itu wajib, nah. Mulai tau itu, aku jadi rajin hadir kondangan jika diundang. 

Lalu kemarin aku dapat satu pelajaran lagi soal undangan, menjawab keheranan pada kecewanya Yulinda karena tidak dikabari nikah teman yang juga adalah tetangganya. Mungkin rasanya begini. Jadi, temanku satu organisasi akan menikah dan aku merasa kami cukup dekat sehingga merasa cukup layak diundang secara personal. Tapi bukan seperti itu yang terjadi, aku diundang melalui grub. Nah, baru tau aku rasa yulinda kala itu, rasanya seperti sadar bahwa “kita gak sedekat itu ya ternyata”.

Tapi, pasti semua hal tentang undang mengundang ini ada sudut pandang lain yang harus kita hormati juga. Dan dari semua rasa undangan ini, aku belajar jika sampai hariku diundang lagi atau mengundang kapan-kapan, aku harus memperhatikan perasaan orang lain, tanpa mengesampingkan kemampuan diri sendiri.

No comments: