Aku tidak ingat apakah pernah cerita
soal ini atau belum, tapi aku ingin mengulas sedikit saja agar dapat menjadi
hikmah supaya tidak terjadi di kemudian hari.
Berawal dari perkenalanku dengan
teman-teman di sebuah organisasi kalau boleh kusebut begitu. Singkat cerita,
aku menemukan fakta unik dari beberapa teman yang rupanya sangat rumit dan tak
bisa aku selesaikan hingga sekian lama sampai aku menemukan sebuah nasihat saat
aku kepoin account facebook salah satu orang-orang ini. Begini isi nasihatnya:
“Karena setiap hati milik kita Allah
yang menggerakkannya. Tidak peduli seberapa hebat seseorang jikalau hati kita
tidak menginginkannya, tidak Allah berikan rasa sayang padanya, tidak akan ada perasaan
apapun. Karena hati kita telah digerakkan olehNya pada seseorang, seseorang
yang Allah tetapkan”.
Sungguh bijak, sungguh suatu jawaban
dari apa yang aku pertanyakan selama ini.
Kembali pada ceritaku tadi, waktu
itu aku mendapat undangan yang begitu dadakan kayak tahu bulat. Si Fulan (1)
akan menikahi Fulanah (1), wah kaget sekali aku. Tak hanya aku, tapi semua
khalayak yang tau kaget bukan main. Karena yang kami tanyakan dalam benak
kemudian adalah… “Bukannya Fulanah (1) sukanya sama Fulan (2) yang notabene
adalah sahabat si Fulan (1)?” Nahlooo.
Sungguh itu tidak sesederhana yang
aku tulis ya.
Pasti sudah ada yang terjadi
sebelumnya, sehingga tak hanya aku tapi beberapa orang dekat juga menanyakan
hal yang sama. Waktu berlalu pernikahan berjalan semua kembali seperti biasa.
Baru baru ini aku dapat kabar
balasan yang tidak mengagetkan, hanya kemudian mendapat jawaban. Fulan (2) yang
dikira disukai Fulanah (1) dulu menikah dengan Fulanah (2) lain. Pantas saja beberapa hari sebelum aku
dapat undangan, aku membaca status galau Fulanah (1) yang nampak sedang galau
terhadap pernikahannya sendiri. Mengadukan galaunya pada orang lain, lalu di
posting hasil nasehat yang didapat.
Beberapa hari sebelum Fulan (1) dan Fulanah (1) menikah, aku dan beberapa teman berasumsi begini kira-kira:
Beberapa hari sebelum Fulan (1) dan Fulanah (1) menikah, aku dan beberapa teman berasumsi begini kira-kira:
Semua ini salah si Fulan (2), sungguh dia tidak rasional.
Fulanah (1) yang terlihat suka padanya itu justru jauuuh lebih baik dari Fulanah
lain yang ia dekati, lebih hebat. Ini akan menjadi hukuman baginya ketika
menyia-nyiakan wanita baik sehingga menikah dengan temannya sendiri. Jahat ya? Tapi
ini opini umum.
Saat itu aku sungguh setuju dengan pernyataan ini, Fulanah (1) adalah orang baik yang lebih layak bersanding dengannya. tapi inilah takdir, inilah kehendak-Nya. Dan nasihat di atas, adalah jawaban bagi pertanyaan kami semua selama ini. Bahwa hati Fulan (2) dan hati semua makhluk itu Allah yang menggerakkan, sehebat apapun Fulanah (1) atau sehebat apapun mereka, kalau Allah tidak gerakkan hati Fulan (2) untuk menyukainya, tidak akan ada rasa apapun, apalagi rasa suka, sayang, cinta. Tidak akan ada.
Saat itu aku sungguh setuju dengan pernyataan ini, Fulanah (1) adalah orang baik yang lebih layak bersanding dengannya. tapi inilah takdir, inilah kehendak-Nya. Dan nasihat di atas, adalah jawaban bagi pertanyaan kami semua selama ini. Bahwa hati Fulan (2) dan hati semua makhluk itu Allah yang menggerakkan, sehebat apapun Fulanah (1) atau sehebat apapun mereka, kalau Allah tidak gerakkan hati Fulan (2) untuk menyukainya, tidak akan ada rasa apapun, apalagi rasa suka, sayang, cinta. Tidak akan ada.
Tidak perlu ada yang disayangkan,
sungguh yang terjadi sekarang jauh lebih “perfect” dari perkiraan “perfect” semua
umat. Beginilah hidup mengajari kita soal cinta, semoga ada hikmahnya.
No comments:
Post a Comment