Hari minggu adalah hari yang
menyenangkan, dimulai dengan bangun pagi dan beres-beres lalu mengantar Ibu ke
pasar. Semakin besar badanku, kini aku sudah berani pasar sendirian, sambil
membawa catatan dan uang belanja aku membeli satu persatu daftar belanja Ibu.
Hari minggu ini juga seperti itu,
meski aku datang pagi, namun suasana pasar nampak sepi. Nangka, ayam, cabai,
bawang kating, aseman, jagung manis, lalu ke penjual ikan. Disinilah aku
menemukan sebuah pelajaran hidup yang patut kita teladani bersama.
Ibu termasuk langganan abang penjual
ikan, karena semua jenis ikan yang dijual kami rasa masih segar dan enak
rasanya, bukan kata abangnya, ini berasal dari pengalaman yang lalu. Pesanan ibu
adalah ikan cucut atau tongkol besar dan udang. Ada beberapa pembeli yang
sedang tawar menawar, saat itu giliran 2 ibu-ibu berseragam olahraga yang
kuduga habis senam nampak sedang kesal karena penawarannya gak diterima. Dia ngotot
minta tambahin satu ekor lagi, abangnya bilang:
“Itu udah pas Ibu, saya cuma untung
5000. Kalau Ibu gak mau, ya balikin saja”
“Ya itu satu lagi lah nyelip itu ”
(sambil ngotot minta tambahin seekor lagi). Duh.
“Yaudah-yaudah, semoga pelaris ya bu”
Tak sampai disitu, satu temannya
lagi minta hal yang sama. Minta tambahin lalu minta kurangin harga jenis ikan
lain yang dibeli, kata-katanya kasar dan memburu.
Astaghfirullah… aku suka gak habis
pikir dengan yang seperti ini. Sungguh, dari sudut pandangku hal tersebut tidak
benar baik secara agama, norma, etika, sosial masyarakat dan lain-lain. Itu jahat Ibu-ibu. Mungkin
bagi ibu yang sebetulnya nampak seperti orang berpunya, ikan seekor ini tak ada
artinya, gak masalah kalau ditambah buat ibu. Lalu harga ikan yang mestinya
15.000 jadi dimurahin lagi itu gak masalah lah 1000/2000. Laaah…
Bu, kalau mau nawar ke supermarket
sana lho. Kok tega sekali sih nawar gak karuan (sambil marah-marah) ke penjual
kecil. Sakit hati kami yang menyaksikan, sudah dikabulkan masih mengomel. Belanjalah
yang sopan sepeti ibu sedang belanja di supermarket, jangan kagok di
supermarket lalu menzolimi pedagang kecil disini.
Buat temen-temenku yang belum jadi
Ibu-ibu, bercita-citalah menjadi ibu-ibu yang memiliki akhlak terpuji, demi
Allah makanan sedikit namun baik cara dapatnya sungguh lebih berkah nilainya di
mata Allah. Makanya, dari sekarang hiduplah dengan baik, jangan “besar pasak
dari pada tiang”. Semoga Allah senantiasa memberi kesabaran
para pedagang kecil dan memberkahinya dengan banyak rezeki yang tidak
disangka-sangka. Ayo mulai hargai kehidupan orang lain.
Taubat ya bu, jangan dzolim lagi.
1 comment:
SELAMAT ANDA MENDAPATKAN UNDANGAN RESMI DARI SUMOQQ.ORG Kunjungi skrg Live Chat nya u/Info lbh Lanjut,Dan Dapatkan Jutaan Rupiah Dengan Cuma-Cuma
BBM : D8ACD825
Post a Comment