Sunday, October 22, 2017

Jangan Dzolim Ibu-ibu!

Hari minggu adalah hari yang menyenangkan, dimulai dengan bangun pagi dan beres-beres lalu mengantar Ibu ke pasar. Semakin besar badanku, kini aku sudah berani pasar sendirian, sambil membawa catatan dan uang belanja aku membeli satu persatu daftar belanja Ibu.

Hari minggu ini juga seperti itu, meski aku datang pagi, namun suasana pasar nampak sepi. Nangka, ayam, cabai, bawang kating, aseman, jagung manis, lalu ke penjual ikan. Disinilah aku menemukan sebuah pelajaran hidup yang patut kita teladani bersama.

Ibu termasuk langganan abang penjual ikan, karena semua jenis ikan yang dijual kami rasa masih segar dan enak rasanya, bukan kata abangnya, ini berasal dari pengalaman yang lalu. Pesanan ibu adalah ikan cucut atau tongkol besar dan udang. Ada beberapa pembeli yang sedang tawar menawar, saat itu giliran 2 ibu-ibu berseragam olahraga yang kuduga habis senam nampak sedang kesal karena penawarannya gak diterima. Dia ngotot minta tambahin satu ekor lagi, abangnya bilang:

“Itu udah pas Ibu, saya cuma untung 5000. Kalau Ibu gak mau, ya balikin saja”
“Ya itu satu lagi lah nyelip itu ” (sambil ngotot minta tambahin seekor lagi). Duh.
“Yaudah-yaudah, semoga pelaris ya bu”

Tak sampai disitu, satu temannya lagi minta hal yang sama. Minta tambahin lalu minta kurangin harga jenis ikan lain yang dibeli, kata-katanya kasar dan memburu.

Astaghfirullah… aku suka gak habis pikir dengan yang seperti ini. Sungguh, dari sudut pandangku hal tersebut tidak benar baik secara agama, norma, etika, sosial masyarakat dan lain-lain. Itu jahat Ibu-ibu. Mungkin bagi ibu yang sebetulnya nampak seperti orang berpunya, ikan seekor ini tak ada artinya, gak masalah kalau ditambah buat ibu. Lalu harga ikan yang mestinya 15.000 jadi dimurahin lagi itu gak masalah lah 1000/2000. Laaah…

Bu, kalau mau nawar ke supermarket sana lho. Kok tega sekali sih nawar gak karuan (sambil marah-marah) ke penjual kecil. Sakit hati kami yang menyaksikan, sudah dikabulkan masih mengomel. Belanjalah yang sopan sepeti ibu sedang belanja di supermarket, jangan kagok di supermarket lalu menzolimi pedagang kecil disini.

Buat temen-temenku yang belum jadi Ibu-ibu, bercita-citalah menjadi ibu-ibu yang memiliki akhlak terpuji, demi Allah makanan sedikit namun baik cara dapatnya sungguh lebih berkah nilainya di mata Allah. Makanya, dari sekarang hiduplah dengan baik, jangan “besar pasak dari pada tiang”. Semoga Allah senantiasa memberi kesabaran para pedagang kecil dan memberkahinya dengan banyak rezeki yang tidak disangka-sangka. Ayo mulai hargai kehidupan orang lain. 

Taubat ya bu, jangan dzolim lagi. 

1 comment:

Aurora Ribero said...

SELAMAT ANDA MENDAPATKAN UNDANGAN RESMI DARI SUMOQQ.ORG Kunjungi skrg Live Chat nya u/Info lbh Lanjut,Dan Dapatkan Jutaan Rupiah Dengan Cuma-Cuma

BBM : D8ACD825