Aneh banget, dengan alasan gak dapet-dapet kerja yang layak, aku memutuskan untuk mendaftar menjadi Perwira Prajurit Karir TNI pada 2017. Begitu dadakan, begitu nekat. Menyiapkan semua berkas
tanpa mikir, paham tapi tidak sambil dipikir.
Sempat kesulitan mendaftar online
karena log-in dengan kode yang dicopy-paste, ternyata bukan begitu cara
kerjanya, kudu diketik manual. Setalah berhasil, malam harinya aku menyiapkan semua berkas yang
sudah ada, dan ternyata banyak yang sudah ada. Lalu keesokan paginya aku berangkat sendiri membuat SKCK dan
legalisir berkas di CAPIL. Buatku, ini hebat. Berani dan gampang.
Setelah aku yakin semua berkas
sudah beres, akupun berangkat ke Korem 043/Garuda Hitam yang lokasinya dekat denga
rumah sakit umum abdul moelok, bertanya pada satpam jaga dan diarahkan ke
belakang sana. Disana sedang berlangsung tes CPNS, dikira mau tes juga. Disana ketemu
pak tentara seragam ijo, aku bertanya dan diarahkan untuk ke ajanrem. Salah tempat.
Waaaaa.
Sebelum aku cus ke ajanrem, aku
bertemu dengan ibu-ibu tentara. Beliau baik dan mengarahkan aku ke ajanrem. lewat RS. Urip itu dek, ke by pass depan RS Immanuel pas.
Karena aku gak tau apa itu ajanrem,
aku cari di google map, eh gak ada. Tapi katanya tadi depan RS. Imanuel, aku googling cari lokasi Immanuel, aku bingung, padalah sudah diberi petunjuk pak ujang (babinsa di
desakaku) tapi aku gak nyambung, ya sepeti tadi kubilang, aku cuma tau tapi gak
aku pikirin.
Berangkatlah aku ke Ajanrem, oh
ternyata deket kantor NET Lampung, dan lebih deket dari Unila kalo lewat
bypass. Yaelah…tadi udah lewat MBK, macet-macetan. Makanya percaya, jangan meremehkan petunjuk orang, apalagi tentara.
Sampai disana diterima baik oleh petugas,
tapi aku tidak langsung jujur mengenalkan identitasku, hanya bilang “biologi”
saja. Setelah mengisi data pendaftaran, form, masang foto. Baru dicek berkasku.
“Berapa IPK?” Aku jawab PD sekali, IPK ku besar.
“Akreditasi program studi?” B, jawabku.
Dan lain-lain yang jawabannya
membanggakan. Petugas lalu mengecek ijazah S1-ku,
dia berkernyit.
“Iya pak, itu SKL… saya baru akan
wisuda November nanti”
“Yakin ijazahnya keluar?" Ya… kan dibagi nanti pas wisuda”
“Saya tanya, yakin ijazahnya keluar?” Iya pak yakin”
Sampai sini aku masih PD. Namun tiba-tiba beliau cek transkrip dan baru sadar kalau aku pendidikan biologi, bukan
biologi. Waaa. Lalu beliau menyampaikan bahwa aku
gak bisa lanjut karena tidak memenuhi kualifikasi. Aku meringis sedih. Berterima
kasih dan mengambil motor bebekku sambil malu berpamitan.
Aku pulang lewat jalan bypass, di
perjalanan aku tidak menangis hanya malu dan merasa kelu. Aku mah cuma pengen dapet kerja,
sepekerjaan sama pangliima besar yang alim. Tapi kan bukan takdirnya.
Untung aku cuma tau, gak pakai mikir dan rasa.
10 comments:
Mau nanya dong. Waktu itu legalisir Akreditasi nya dari kampus atau dari Ban PT lgsg?? Makasihh
Assalamu'alaikum.
Mas berkas yabg di legalisir di CAPIL apa saja ya..??? Apakah dikenakan biaya legalisir di CAPIL..??? Oyah CAPILNYA Pemkot atau Provinsi..??? Mohon informasinya ya mas.
Sertifikat akreditasi kampus yg disah kan BAN-PT itu difotocopy, lalu di cap Sama kampus, gitu mbak.
Di capil legalisir berkas yg diterbitkan oleh capil, misalnya KK, KTP, Akte. Gratisss dong.
Oya, di capil kabupaten/Kota saja. Btw Aku perempuan hehe :)
Mas mau tanya berarti kalau kualifikasinya "Bahasa Indonesia" "Bahasa Inggris" sedangkan prodi nya "Pendidikan Bahasa Indonesia/Inggris" ga bisa daftar mas?
mas yag dipake akreditasi kampus atau jurusan ya ?
pendidikan biologi, bukan biologi.
maksudnya gimana ya?
Mau tanya pas daftar ulang haruskah bawa dokumen asli?
Post a Comment