Saturday, October 21, 2017

Pengalaman Mendaftar Pa PK TNI 2017

Aneh banget, dengan alasan gak dapet-dapet kerja yang layak, aku memutuskan untuk mendaftar menjadi Perwira Prajurit Karir TNI pada 2017. Begitu dadakan, begitu nekat. Menyiapkan semua berkas tanpa mikir, paham tapi tidak sambil dipikir.

Sempat kesulitan mendaftar online karena log-in dengan kode yang dicopy-paste, ternyata bukan begitu cara kerjanya, kudu diketik manual. Setalah berhasil, malam harinya aku menyiapkan semua berkas yang sudah ada, dan ternyata banyak yang sudah ada. Lalu keesokan paginya aku berangkat sendiri membuat SKCK dan legalisir berkas di CAPIL. Buatku, ini hebat. Berani dan gampang.

Setelah aku yakin semua berkas sudah beres, akupun berangkat ke Korem 043/Garuda Hitam yang lokasinya dekat denga rumah sakit umum abdul moelok, bertanya pada satpam jaga dan diarahkan ke belakang sana. Disana sedang berlangsung tes CPNS, dikira mau tes juga. Disana ketemu pak tentara seragam ijo, aku bertanya dan diarahkan untuk ke ajanrem. Salah tempat. Waaaaa.

Sebelum aku cus ke ajanrem, aku bertemu dengan ibu-ibu tentara. Beliau baik dan mengarahkan aku ke ajanrem. lewat RS. Urip itu dek, ke by pass depan RS Immanuel pas.

Karena aku gak tau apa itu ajanrem, aku cari di google map, eh gak ada. Tapi katanya tadi depan RS. Imanuel, aku googling cari lokasi Immanuel, aku bingung, padalah sudah diberi petunjuk pak ujang (babinsa di desakaku) tapi aku gak nyambung, ya sepeti tadi kubilang, aku cuma tau tapi gak aku pikirin.
Berangkatlah aku ke Ajanrem, oh ternyata deket kantor NET Lampung, dan lebih deket dari Unila kalo lewat bypass. Yaelah…tadi udah lewat MBK, macet-macetan. Makanya percaya, jangan meremehkan petunjuk orang, apalagi tentara.

Sampai disana diterima baik oleh petugas, tapi aku tidak langsung jujur mengenalkan identitasku, hanya bilang “biologi” saja. Setelah mengisi data pendaftaran, form, masang foto. Baru dicek berkasku.

“Berapa IPK?” Aku jawab PD sekali, IPK ku besar.
“Akreditasi program studi?” B, jawabku.

Dan lain-lain yang jawabannya membanggakan. Petugas lalu mengecek ijazah S1-ku, dia berkernyit. 

“Iya pak, itu SKL… saya baru akan wisuda November nanti”
“Yakin ijazahnya keluar?" Ya… kan dibagi nanti pas wisuda”
 “Saya tanya, yakin ijazahnya keluar?” Iya pak yakin”

Sampai sini aku masih PD. Namun tiba-tiba beliau cek transkrip dan baru sadar kalau aku pendidikan biologi, bukan biologi. Waaa. Lalu beliau menyampaikan bahwa aku gak bisa lanjut karena tidak memenuhi kualifikasi. Aku meringis sedih. Berterima kasih dan mengambil motor bebekku sambil malu berpamitan. 

Aku pulang lewat jalan bypass, di perjalanan aku tidak menangis hanya malu dan merasa kelu. Aku mah cuma pengen dapet kerja, sepekerjaan sama pangliima besar yang alim. Tapi kan bukan takdirnya. 

Untung aku cuma tau, gak pakai mikir dan rasa.

10 comments:

Unknown said...

Mau nanya dong. Waktu itu legalisir Akreditasi nya dari kampus atau dari Ban PT lgsg?? Makasihh

Unknown said...

Assalamu'alaikum.
Mas berkas yabg di legalisir di CAPIL apa saja ya..??? Apakah dikenakan biaya legalisir di CAPIL..??? Oyah CAPILNYA Pemkot atau Provinsi..??? Mohon informasinya ya mas.

ridhawd said...

Sertifikat akreditasi kampus yg disah kan BAN-PT itu difotocopy, lalu di cap Sama kampus, gitu mbak.

ridhawd said...

Di capil legalisir berkas yg diterbitkan oleh capil, misalnya KK, KTP, Akte. Gratisss dong.

ridhawd said...

Oya, di capil kabupaten/Kota saja. Btw Aku perempuan hehe :)

Unknown said...

Mas mau tanya berarti kalau kualifikasinya "Bahasa Indonesia" "Bahasa Inggris" sedangkan prodi nya "Pendidikan Bahasa Indonesia/Inggris" ga bisa daftar mas?

frg said...

mas yag dipake akreditasi kampus atau jurusan ya ?

Unknown said...

pendidikan biologi, bukan biologi.

maksudnya gimana ya?

Syarif Muhammad said...

Mau tanya pas daftar ulang haruskah bawa dokumen asli?

nayuan said...
This comment has been removed by the author.